Dosakah Aku Karena Mencumbu Tuhan?

17 Oct 2011

42-18032389Kenikmatan itu muncul mengiringi tiap tetes air mataku. Ketenangan itu hadir di tengah senggukan nafasku yang kian tak teratur. Semakin tak teratur, semakin tenang hati ini. Debar jantungku bukanlah ekspresi kegelisahan. Inilah emosi jiwa yang merindukan belaian kasih sayang. Biarlah kuyup kain ini oleh kucuran air mata yang tak kunjung berhenti meski telah menggenang.

Telah beratus kali jidat ini kubenturkan dalam sujud, beratus kali pula aku tersungkur untuk menghamba tanpa pamrih. Aku ikhlas, Ya Allah. Hanya Engkau yang aku damba, ridha-Mu lah yang kupinta. Aku sungguh mencinta-Mu!!

Segala puji bagi-Mu Allah. Lima belas kali sudah aku berturut-turut memantapkan niat untuk menghadap-Mu di sepuluh sisa Ramadhan. Selama itu pula aku bersimpuh di depan tempat-tempat Multazam di Rumah-Mu nan suci. Hanya Engkau yang aku damba, ridha-Mu lah yang kupinta. Aku selalu rindu kepada-Mu!

Aku berjanji, Ya Rabb. Aku akan selalu membuai-Mu setiap sepuluh akhir Ramadhan. Maka lapangkanlah jalanku, luaskan rejekiku…

***

Eh, Bang! kok melamun begitu? lamunanku buyar ketika Ridwan menegurku. Lamunan untuk mengenang kenikmatan yang kurasakan saat Itikaf di Masjidil Haram, Ramadhan lalu, dan kini masih terasa benar.

O, nggak. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu saja, kataku mengelak.

Wah, pasti lagi mikirin Chelsea ya! Sudah lah, Bang. Usia kau itu sudah tidak muda lagi. Nikahi saja dia!

O, Chelsea. Jarang sekali aku memikirkan perempuan yang kupacari sejak tiga tahun lalu itu. Sebagai pengusaha muda yang tengah merintis bisnis properti, aku sampai tak punya waktu untuk bertemu dengannya. Jangankan untuk bermalam Minggu, yang dianggap sebagai hari pacaran nasional, dalam sebulan pun belum tentu aku bisa menemuinya. Bisnisku yang sedang beranjak naik ini mengharuskanku berkunjung ke daerah-daerah. Maafkan aku, sayang..

Oke, Bang. Telepon dia sekarang. Hilangkan kegundahan kau itu! Ridwan terus menyerangku.

Nanti saja. Aku sedang tak mau mengobrol dengannya, jawabku ringan.

Oke, oke. Tapi kau tak boleh lagi melamun seperti tadi.

Yap, setuju!

***

Semua orang yang mengenalku tahu kalau otak bisnisku memang tokcer. Sebagai anak pertama dari enam bersaudara, aku sudah berpikir untuk mandiri. Yang ada di otakku saat itu hanyalah bagaimana bisa membayar SPP tanpa meminta kepada ayahku yang hanya seorang petani. Aku sudah bekerja sebagai montir sepeda motor sejak SMA. Dari pekerjaan itu aku bisa membayar SPP dan sisanya kutabung atau kubelikan buku.

Dengan modal otak encer ini pula aku mendapatkan bea siswa untuk kuliah di sebuah universitas negeri terkemuka di Jakarta. Empat tahun setengah kemudian aku pun lulus, meski dengan nilai lumayan. Selama kuliah, aku bekerja sambilan dengan memberikan les privat kepada anak-anak SMP dan SMA. Hasilnya lumayan untuk menghidupiku di Kota Metropolitan ini, bahkan aku bisa mengirimi orangtua sekadar membantu mereka membiayai sekolah adik-adik.

Dari pekerjaan itu pula aku berkenalan dengan banyak pengusaha yang anak-anaknya kuberikan les, sampai kemudian aku diajak seorang pengusaha properti sukses. Setelah paham seluk-beluknya dan memiliki rekanan untuk investasi, aku pun mendirikan perusahaan sendiri.

Kini, dengan bisnisku yang semakin membaik, aku telah dua kali menunaikan ibadah haji. Kali pertama aku ajak kedua orangtua, sementara yang kedua kali aku berangkat dengan sejumlah rekanan bisnis. Bahkan, sejak lima belas tahun lalu, aku tak pernah sekalipun absen beritikaf di Baitullah mengisi sepuluh hari akhir Ramadhan.

***

Bang, apa tak risih ditanya terus kapan kau menikah oleh orangtua?” Ridwan kembali membuka pembicaraan.

Iya juga sih. Tapi bagaimana lagi? Aku sedang konsentrasi dengan bisnis ini, kan?

Menurutku, orangtua Abang pasti sudah tak tahan lagi menimang cucu, celotehan Ridwan terus saja menyerangku.

Dalam situasi seperti ini, Ridwan di mataku sangat menyebalkan. Tapi aku pun mafhum dia berkata seperti ini. Aku dan dia sudah berteman sejak kuliah dulu. Ridwan adalah adik kelasku yang paling kuandalkan setiap ada kegiatan mahasiswa di fakultas, di mana aku menjadi presiden badan eksekutif mahasiswa.

Ya biar sajalah. Toh, mereka sudah mendapatkan cucu dari adikku yang menikah dua tahun lalu.

Wah, itu berbeda Bang! Ada kegembiraan lain saat orangtua menimang cucu dari masing-masing anaknya, komentar Ridwan memerahkan telinga ini.

Aku terdiam. Suasana kali ini betul-betul menangganggu batinku. Ridwan tampaknya memahami kegundahanku.

Kita berhenti dulu di masjid itu ya, pintaku.

Alphard silverku yang dikemudikan Ridwan pun berbelok masuk pekarangan masjid yang kutunjuk.

Setelah mengambil air wudhu, aku dan Ridwan secara berjamaah menunaikan salat Dzuhur, ketika beberapa orang mulai berkemas untuk mendengarkan ceramah seorang ustadz yang memimpin jamaah Dzuhur tadi.

***

Jamaah sekalian, mungkin ada di antara kita yang pernah berulang kali menunaikan haji atau umrah. Bersua dengan Kabah untuk menghiba cinta di hadapan Sang Khaliq. Memang akan hadir berjuta kenikmatan di tanah suci itu. Tapi, sadarkah kita telah meninggalkan negeri dengan jutaan saudara kita yang hanya makan setiap tiga kali sehari? Meski mereka bersusah payah meraih rupiah, tapi hanya sehelai pakaian yang melekat di badan. Mereka memiliki bayi-bayi yang terus menangis meminta susu ibunya yang kering kerontang! Mereka pun memiliki anak-anak yang tak pernah mengecap bangku sekolah.

Saudara-saudaraku sekalian, mari kita merenung. Akankah kita terus mementingkan cinta Ilahi di saat tetangga-tetangga kita berurai air mata karena miskin dan dhuafa? Mulai sekarang, mari kita tinggalkan haji dan umrah yang berulang. Bukankah lebih baik biaya haji dan umrah itu kita berikan untuk mereka yang memang membutuhkan..?

***

Ceramah sang ustadz yang kudengar tadi siang, menghentakkan batinku. Selepas Witir, saat kuselunjurkan kakiku, aku termenung. Akankah kugadaikan cintaku kepada Allah untuk orang-orang yang tak kukenal? Apakah ustadz itu tahu, betapa kenikmatan yang kuraih di Baitullah, mungkin tak semua orang mendapatkannya. Punya hak apa dia melarangku untuk memuja Allah sesuai seleraku!!!

Aku yakin tangisku mengurai dosa yang laksana buih lautan. Aku yakin dalam kenikmatan itu, tangan-Nya menjamahku dengan rahman dan rahim. Aku yakin dengan berjuta keyakinan, jiwa ini membutuhkan suasana itu terus hadir setiap sepuluh sisa Ramadhan.

Ya Allah, kutengadahkan tanganku untuk bertanya: Haruskah kutinggalkan perjumpaanku dengan-Mu hanya untuk orang-orang yang tak kukenal?


Oleh: Imam Fathurrohman
Parung, April 2008


TAGS Cerpen


-

Author

Follow Me