Mang Ndut Kepingin Langsing

17 Oct 2011

kurus-vs-gemukTak seperti biasanya, angin pagi di kawasan Bogor kali ini tidak begitu menggigit, menusuk lebih dalam ke rongga-rongga tulang. Selimut tebal yang semalam dipakai pun mulai disingkirkan karena rasa gerah sudah sangat terasa. Padahal, semalam hujan tampak begitu lebat dengan petirnya yang sesekali menghentakkan telinga. Sudah sejak senja masyarakat di komplek itu tak beranjak ke luar rumah karena lebih memilih mendekam di bilik kehangatan sambil berselimut dan memicingkan mata.

Di awal hari sebelum matahari terbangun dari tidurnya, sejumlah pedagang sudah berteriak menjajakan dagangannya. Bahkan, warung sayur Pak Dhe sudah dikerubuti ibu-ibu yang tidak mau kehabisan bahan-bahan masakannya. Teriakan khas ibu-ibu pun segera mengambil alih suasana pagi yang hening itu menjadi sangat bising.

Jarum jam tepat mengarah pada angka 5 ketika Mang Endut dan Nyi Larung membuka pintu rumah. Nyi Larung yang selesai berbelanja di warung sayur Pak Dhe dengan setengah memaksa mengajak suaminya, Mang Endut, berolahraga. Kebiasaan Mang Endut memang tidak pernah berubah. Selesai melaksanakan salat Subuh dia pun tidur kembali. Apalagi jika keesokan harinya Mang Endut libur atau setelah semalaman begadang nonton wayang di televisi, kasur empuk pun menjadi sasaran kegiatan berikutnya. Badan besarnya segera melingkar atau tepatnya membentu posisi jajaran genjang memenuhi ranjang.

Wah, segerrr sekali, ya Pak? tanya Nyi Larung, setelah pintu kembali tertutup.

Iya, Nyi. Ooaah.. jawab Mang Endut singkat sambil tangannya menutup mulut karena menguap.

Si bapak mah, masih saja menguap. Ayo bangun! Kita lari! teriak Nyi Larung memberi semangat. Bahkan tak hanya teriakan, sejurus kemudian cubitan keraspun dialamatkan ke pinggang suaminya.

Iya, Nyi. Aduuh, Mang Endut bergelinjang menahan sakit dan tentunya juga menahan marah.

***

Kebersamaan Mang Endut dan Nyi Larung saat berolahraga, tepatnya jalan kaki, hanya sementara saja. Ketika bertemu ibu-ibu lainnya, Nyi Larung lebih memilih teman-teman ngerumpinya itu dibanding suaminya. Ditinggal sang istri malahan membuat Mang Endut senang, dia bisa dengan leluasa melirik kanan-kiri menonton gratis daun-daun muda yang hilir mudik berolahraga.

Nah gitu dong, Mang Endut. Kalau sering-sering begini kan lama-lama bisa langsing, tepukan Aki Eyot yang datang dari arah belakang membuat Mang Endut kaget, sekaligus menghilangkan kesempatan melihat lebih seksama gadis muda bohay berkaus merah yang baru saja melintas di depan matanya.

Eh, Aki Eyot. Iya nih mumpung lagi semangat, ujar Mang Endut sambil tersipu, khawatir kegiatan lirik-lirik nya ketahuan.

Olahraga yang paling baik itu, konon, adalah jalan kaki. Kalau Mang Endut sudah berjalan sejauh ini dari rumah, dalam tiga minggu ke depan, tuh perut pasti jadi langsing, goda Aki Eyot.

Ah, bisa saja. Aki masih kuat jalan sejauh ini? tanya Mang Endut.

Masih. Aki hampir tiap pagi jalan kaki. Maklum, daripada bosan tidak ada kerjaan mendingan Aki jalan-jalan supaya tetap bugar, terang Aki Eyot.

Mendengar pekataan Aki, Mang Endut hanya mengangguk. Di dalam hatinya, Mang Endut menyimpan pertanyaan usil: Ah, paling juga semangat karena banyak gadis-gadis muda. Iya kan, Ki?

Olahraga itu membuat kita sehat kalau niat kita juga lurus untuk berolahraga, bukan karena ingin melihat gadis-gadis muda seperti mereka, sambung Aki seolah kereteg hate Mang Endut mampu ditangkapnya.

Mang Endut terkesiap mendengar kata-kata Aki. Untuk menetralisir kekagetannya, Mang Endut mengayun-ayunkan tangannya seperti gerakan pemanasan ala Vicky Burki yang pernah ditontonnya di televisi.

Kita istirahat dulu Mang Endut. Di bawah pohon kelapa itu kayaknya asyik juga kita mengobrol sambil melihat talaga di pagi hari, ajak Aki Eyot.

Keduanya berjalan ke arah pohon kelapa yang ditunjuk Aki Eyot. Setelah memesan bubur ayam yang mangkal tidak jauh dari tempat itu, keduanya kemudian terlibat perbincangan yang agak serius.

Beberapa hari ini saya sering malas mengerjakan sesuatu, Ki. Menurut Aki, apakah hal itu bisa juga diakibatkan karena badan saya yang kelewat gemuk? tanya Mang Endut.

Bisa jadi. Kemalasan itu kan datangnya dari setan. Sementara setan beraktifitas melalui aliran darah yang akan terus mengalir kencang jika kita selalu mengkonsumsi sesuatu. Kalau saja kita mau menahan diri untuk tidak makan, maka aliran darah itu akan berhenti. Artinya, setan pun tidak akan mampu beraktifitas. Itulah hikmahnya berpuasa, mampu mengendalikan hawa nafsu yang notabene berasal dari setan, jawab Aki Eyot panjang lebar. Aki Eyot yang pensiunan guru agama ini memang dikenal warga sebagai sosok ustadz yang ramah, sederhana, dan mampu memberikan jawaban secara ciamik.

Sebenarnya, aktifitas setan tidak saja terjadi pada aliran darah orang-orang gendut seperti Mang Endut. Aktifitas setan terjadi pada orang-orang yang kenyang. Makanya, Rasulullah SAW berpesan agar kita selalu berhenti makan sebelum kenyang, sambung Aki Eyot.

Dalam kaidah menaklukan jiwa yang dibahas Imam Al-Ghazali, kita dianjurkan menahan lapar. Dengan menahan lapar, setidaknya ada sepuluh manfaat di dalamnya. Mang Endut mau tahu kesepuluh manfaat itu? tanya Aki Eyot.

Mau, Ki. Kebetulan saya tidak mendengarkan kuliah Subuh pagi tadi di tivi, jawab Mang Endut.

Yang pertama, menahan lapar dapat menyucikan hati, menerangi hati (qarihah), dan menajamkan kecerdasan (bashirah). Sebaliknya, kekenyangan hanya akan mewariskan kebodohan, membutakan hati, dan memperbanyak uap air di dalam otak sehingga mampu menutup sumber-sumber pemikiran, sehingga hati kesulitan menjalankan fungsi dalam berpikir dan memahami segala sesuatu dengan cepat. Begitu juga bagi seorang anak yang kelewat banyak makan, dia akan menghadapi risiko lemah daya ingat dan rusaknya kecerdasan sehingga dia menjadi idiot dan lamban dalam berpikir, papar Aki Eyot sambil menghela nafasnya.

Kedua, menahan lapar mampu melunakkan dan menjernihkan hati sehingga siap merasakan kebahagiaan bermunajat kepada Allah dan mendapat faedah dari mengingat-Nya. Lidah kita sering berdzikir dnegan hati yang khidmat, tetapi kita tidak merasakan kebahagiaan atau kesan yang mendalam. Antara kita yang berdzikir dan rasa bahagia seolah terdapat dinding yang sangat tebal karena diciptakan oleh kekerasan hati. Di lain waktu, hati kita kadang mampu menangkap rasa bahagia dengan bermunajat kepada Allah. Umumnya, perut kosong itulah yang menjadi faktor tertangkapnya rasa bahagia. Abu Sulaiman Ad-Darani sampai berkata: Ibadah yang paling manis bagiku adalah ketika perutku menempel di punggungku. Sementara ulama sufi lainnya Abu Sualiman mengatakan: ketika hati lapar dan haus ia menjadi jernih dan lunak, tetapi ketika kenyang ia menjadi buta dan keras. Dengan rasa lapar, para ulama sufi mampu merasakan nikmatnya berdekatan (munajat) dengan Allah, mudah berkontemplasi dan mencapai makrifat.

Manfaat yang ketiga adalah tumbuhnya rasa malu, sikap rendah hati, dan hilangnya rasa cinta terhadap kemegahan, kegembiraan, dan pola hidup bersenang-senang yang merupakan sumber sikap melampaui batas dan lalai terhadap Allah SWT. Ketahuilah, Mang Endut, sesungguhnya nafsu tidak mungkin dapat ditaklukkan dan dikendalikan kecuali oleh rasa lapar. Dengan rasa lapar, jiwa kita akan merasa tenteram dan khidmat kepada Allah. Nafsu makan dan nafsu seks merupakan pintu menuju api neraka dan sumbernya adalah rasa kenyang. Sebaliknya, sikap rendah hati dan tunduknya hawa nafsu merupakan pintu menuju surga, dan modal dasarnya adalah rasa lapar.karena itu, Mang Endut. Barangsiapa yang menutup salah satu pintu neraka, maka sebenarnya ia telah membuka salah satu pintu surga, karena keduanya saling bertentangan, seperti timur dan barat, seperti siang dan malam..,

Oh, itulah sebabnya para koruptor banyak yang beraksi karena alasan ekonomi: perut dan di bawah perut, ya Ki? sambar Mang Endut.

Betul, Mang. Jiwa para koruptor, bahkan, sudah sangat dikuasai oleh setan karena mereka juga sudah tidak memedulikan keberadaan orang lain, keberadaan orang-orang miskin, atau keberadaan rambu-rambu hukum yang berlaku. Sifat setan yang lainnya adalah tidak taat hukum. Bukankah rajanya setan, Iblis lanatullah alaihi, pun terlempar karena ketidakpatuhannya kepada perintah Allah?

Kembali ke laptop, Ki. Yang keempat apa?

Yang keempat, dengan rasa lapar kita tidak menjadi lupa terhadap cobaan maupun azab Allah, dan tidak menelantarkan orang-orang yang tertimpa musibah. Orang-orang yang terbiasa kenyang, perasaannya kurang peka terhadap orang-orang yang lapar karena dirinya terbiasa melupakan rasa lapar itu sendiri. Seorang yang cerdas tidak pernah tahan menyaksikan penderitaan orang lain karena ia akan sesegara mungkin teringat betapa menderitanya mendapat adzab di akhirat nanti. Melalui rasa hausnya, dia akan merasakan rasa haus yang dirasakan oleh umat manusia di Padang Mahsyar pada hari Kiamat, dan melalui rasa lapar dia akan mengingat rasa lapar yang diderita para penghuni neraka. Saking dahsyatnya, para penghuni neraka rela makan buah berduri, buah pohon zaqqum atau meminum ghassaq dan timah yang meleleh, naudzubillah min dzalik. Kita dianjurkan untuk selalu mengingat adzab di akhirat, karena hal itu dapat membangkitkan rasa takut. Celakalah kita jika tidak pernah mengecap rasa rendah hati, sakit, miskin, dan musibah, karena hal itu hanya akan membuat kita lupa akan akhirat. Inilah salah satu faktor mengapa para nabi dan waliyullah selalu dihadapkan pada cobaan, sehingga yang paling baik di antara mereka adalah yang paling berat cobaannya. Begitulah seperti yang sabda Nabi SAW yang diriwayatkan At-Tirmidzi: Kami, para Nabi adalah orang-orang yang diuji paling berat dan yang paling baik di antara kami adalah yang paling berat ujiannya. Maka, ketika Nabiyullah Yusuf AS ditanya, Mengapa engkau menahan lapar, padahal engkau menguasai seluruh gudang pangan di negeri ini? Yusuf menjawab, Aku takut kenyang sehingga lupa terhadap orang-orang yang lapar. Mengingat orang-orang yang lapar dan miskin merupakan salah satu manfaat rasa lapar. Rasa lapar menggugah sifat kasih sayang, keinginan memberi makan, dan rasa empati terhadap makhluk-makhluk Allah.

Manfaat kelima adalah menaklukan segala nafsu berbuat maksiat dan mengalahkan jiwa yang selalu memerintahkan pada kejahatan (al-nafs al-ammarah bi al-su). Seperti yang Mang Endut ketahui juga bahwa pangkal perbuatan maksiat itu kan adalah nafsu dan tenaga yang keduanya bersumber dari makanan. Oleh karena itu, menyedikitkan makanan berarti melemahkan segala nafsu dan kekuatan. Dan hal paling kecil yang ditaklukan rasa lapar adalah nafsu seks dan keinginan untuk berbicara secara berlebihan, sehingga orang itu akan terbebas dari penyakit-penyakit lidah seperti menggunjing, berkata-kata keji, berbohong, mengadu dumba, dan lain sebagainya. Sebaliknya, orang yang kenyang, biasanya, ia membutuhkan hiburan yang dapat diperolehnya dengan cara mencela orang lain. Padahal, seseorang akan dengan mudah dijebloskan ke dalam neraka karena ulah lidahnya.

Eiit, nanti dulu, Ki. Meski saya gendut dan doyan makan, tapi saya paling ogah kalau harus ngerumpi kayak ibu-ibu. Selain memang dosa, kayaknya ngerumpi itu pekerjaan ibu-ibu banget, gitu. Cuma, kalau masalah ngeliat cewek muda, saya memang paling hobi, Ki. He, he..heh.

Ah, itu dia. Tapi, kayaknya penyakit Mang Endut yang senang ngeliat cewek muda, itu mah sudah dari sononya. Bawaan orok kali ya? He..he…

Derai tawa seketika merebak menengahi obrolan keduanya. Mang Endut yang jadi bahan tertawaan terkekeh, meski wajahnya terlihat memerah.

Maaf ya Mang Endut. Ini mah intermezzo saja.

Enggak apa-apa, Ki. Kayaknya sih saya memang begitu dari baheula, he, he..

Aki Eyot yang mendengar hal itu hanya tersenyum sambil menghirup semilir angin yang melintas tepat di wajahnya. Sungguh suasana alam yang indah nan sejuk. Kabut yang terlihat jelas mengapung di atas permukaan telaga menambah daya tarik talaga yang dinamai Cilula itu. Pantas saja tempat itu tidak pernah sepi pengunjung yang datang dari berbagai tempat, tak hanya dari kawasan Komplek Talaga Kahuripan saja.

Kembali ke laptop, Ki. Kalau yang berikutnya apa?

Nanti dulu. Sebelum masuk ke manfaat yang berikutnya, Aki ingin memberi tahu sebuah rahasia bagi orang-orang yang ingin terbebas dari perbuatan maksiat terhadap wanita

Apa itu, Ki?

Seorang bijak pernah berkata, siapa saja yang mampu bersikap sabar dan tabah dengan hanya makan sekadar mengisi sebagian rongga perutnya, maka insya Allah akan terbebas dari nafsu terhadap kaum wanita.

Oh, begitu.

Nah, sekarang kita masuk ke bagian selanjtunya. Manfaat rasa lapar keenam adalah mencegah rasa ingin tidur dan membiasakan tidak tidur di malam hari. Mang Endut tentu tahu bahwa orang yang banyak makan, pasti minumnya pun banyak. Nah, karena banyak minum itulah seseorang akan terlena karena banyak tidur.

Tapi, kita kan butuh tidur untuk menjaga kebugaran agar fit ketika bekerja keesokan harinya, Ki?

Betul, Mang Endut. Namun bagi kalangan salafussalih, menyedikitkan tidur di malam hari sudah menjadi kebutuhan seperti halnya salat malam. Kalangan salafussalih ini selalu menjaga nikmatnya salat malam, sehingga mereka akan dengan senang hati melakukan salat malam itu karena sudah menjadi kebutuhan. Dan bagi kita, terutama Mang Endut yang harus bekerja, waktu di malam hari bisa saja diatur agar kita juga bisa mengerjakan salat malam tanpa harus hilang kebugaran tubuh. Untuk perilaku seperti ini, Nabi Daud As telah memberikan contoh yang paling baik. Beliau tidur di sepertiga malam pertama kemudian bangun di sepertiga kedua, lalu tidur kembali di sisa-sisa malam hingga kemudian bangun kembali saat subuh menjelang. Dengan begitu, kebugaran tubuh akan selalu terjaga, salat malam pun akan menjadi kebiasaan yang memberikan banyak kenikmatan.

Yang ketujuh, rasa lapar akan mempermudah ketekunan seseorang dalam menjalankan ibadah. Dengan rasa lapar, seseorang akan senang berlama-lama berdzikir mengingat Allah, beritikaf di masjid, dan tidak terburu-buru dalam beribadah. Jika saat beribadah perut dalam keadaan kenyang, maka yang ada dalam otaknya hanya makanan. Betul kan Mang Endut?

Eh, betul, Ki.

Manfaat yang kedelapan adalah kesehatan tubuh dan mencegah penyakit. Mang Endut tentu juga tahu bahwa factor yang menyebabkan timbulnya penyakit adalah makan terlalu banyak dan berlebihnya komposisi unsure-unsur di dalam pencernaan dan pembuluh darah. Dahulu, Sultan Harun Al-Rasyid pernah mengumpulkan empat dokter yang berasal dari India, Yunani, irak, dan seorang Sawadi (dari kampung Sawad, sebuah daerah pertanian di Irak tengah bagian selatan). Harun bertanya kepada mereka: Tunjukkan kepadaku, obat apa yang tidak mengakibatkan timbulnya penyakit? Dokter dari India berkata, obat seperti itu adalah Al-Halilaj Al-Aswad (myrobalan hitam, sebuah tanaman di India yang biasa dipakai untuk mengobati berbagai macam penyakit termasuk lepra). Lalu dokter Irak berkata, menurut saya obat itu adalah Habb Al-Rasyad Al-Abyadh (nasturtium cress, digunakan untuk mengobati penyakit lepra, limpa, dan penyakit-penyakit kaum wanita). Dokter Yunani berkata, pendapat saya obat itu adalah air panas. Dokter Sawadi yang merupakan dokter terpandai dari ketiganya berkata, Myrobalan menipiskan pencernaan, dan ini penyakit. Nasturtium membuat perut berlemak, dan ini penyakit. Sementara air panas dapat mengendurkan perut, dan ini juga penyakit. Menurut saya, obat yang tidak ada efek sampingnya adalah tidak makan kecuali jika telah lapar dan berhenti makan sebelum kenyang. Begitulah Mang Endut..

Aki, saya jadi teringat ceramah seorang ustadz saat khutbah Jumat di kantor saya. Kata dia, seorang filosof sekaligus dokter pernah takjub pada sebuah hadits Nabi Muhammad SAW yang mengatakan: Sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk napas. Betul begitu, Ki?

Tepat sekali Mang Endut. Berkaitan dengan hal itu, Nabi Muhammad SAW juga bersabda: Perut kenyang adalah sumber penyakit dan rasa demam adalah awal kesembuhan. Hendaklah setiap orang membiasakan setiap anggota tubuh berjalan sesuai dengan fungsinya. Mang Endut juga tentu sudah tahu betul bahwa ada juga sebuah hadits yang mengatakan: Berpuasalah, niscaya kamu sekalian akan sehat.

Nah, sekarang manfaat yang kesembilan. Dengan rasa lapar biaya hidup pun akan ringan. Orang yang terbiasa makan sedikit hanya membutuhkan uang yang sedikit, sedangkan orang yang terbiasa makan kenyang akan merasakan perutnya terus-menerus menagih untuk diisi. Dari hal ini kita sesungguhnya diajarkan untuk tidak rakus terhadap urusan duniawi. Bukankah jika kita terbiasa kenyang, maka kita akan selalu rakus? Si perut kenyang akan mencari uang dari manapun untuk memenuhi rasa laparnya.

Betul juga ya, Ki..

Dan yang teakhir, Mang Endut. Rasa lapar akan memupuk kebiasaan mendahulukan kepentingan orang lain, bersedekah kepada anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Mang Endut, apa yang kita sedekahkan pasti tersimpan rapi dalam perbendaharaan karunia Allah. Sementara apa yang kita makan hanya akan menumpun di lubang WC. Betul kan? Itulah pentingnya kita memberi makan orang-orang miskin dari kelebihan harta kita. Dari kesepuluh manfaat yang telah kita bincangkan tadi, sesungguhnya terdapat manfaat lain yang tidak terhitung jumlahnya. Menahan lapar adalah perbendaharaan besar bagi segala sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan akhirat. Maka tidak salah jika seorang salaf berkata, menahan lapar adalah kunci ke akhirat dan pintu menuju zuhud. Sedangkan rasa kenyang kunci dunia dan pintu menuju sifat rakus. Wallahu Alam bish Shawab..

Wah, tuntas sudah Ki..

Tuntas bagaimana maksudnya?

Tuntas sudah saya bertekad untuk mengecilkan perut yang bunting ini.

Yang penting adalah usaha, Mang Endut. Lakukan saja olahraga ringan tapi teratur. Dan jangan lupa, kurangi makan agar sehat.

Oke, Ki. Hatur nuhun pisan. Kita jalan lagi, Ki..

Hayu, lah..

Matahari mulai merambat naik ketika Mang Endut dan Aki Eyot beranjak dari tempat duduknya. Semilir angin yang tadinya dingin berubah menghangat meski kesejukan masih terasa. Semakin siang, Telaga Cilula bukannya menjadi sepi, justeru bertambah ramai. Satu per satu orang-orang yang bersantai setelah berolahraga pulang ke rumah, digantikan sekelompok keluarga yang membawa tikar dan bingkisan.

Nah, ini dia.. celetuk Mang Endut spontan.

Aki Eyot yang memerhatikan tingkah Mang Endut hanya geleng-geleng kepala. Seorang wanita muda bercelana street superketat dengan kaus superminim melintas tepat dari arah belakang.

Maaf, Ki. Saya duluan. Assalamualaikum..


Oleh: Imam Fathurrohman
Parung, 2008


TAGS Celoteh Mang Ndut


-

Author

Follow Me