Tak Ingin Daster Bermotif Bunga

17 Oct 2011

kulit-kering1Lembayung senja baru saja ditelan bumi di ufuk barat. Meski biasanya sinar merah jingga itu tak begitu tergambar di atas kanvas Kota Metropolitan, namun guratan lurus yang melintang pada senja kali itu, begitu nampak. Cuaca cerah sepanjang hari mungkin bisa menjawab suasana tak biasa itu.

Musim kemarau yang kembali datang setelah tiga bulan hujan mengguyur Jakarta, membuat panas cuaca pada senja menjelang malam. Kesejukkan mungkin hanya dapat dirasakan pemilik rumah gedong yang tiap ruangannya full AC. Tinggal pijit remote, semilir angin mampu menghilangkan panas dan penat setelah seharian bekerja.

Bagi kebanyakan orang, membuai diri dalam ruangan yang dipenuhi semilir angin ibarat terlena angin surgawi yang dihembuskan kipas para bidadari. Namun, tak seperti orang kebanyakan itu, Purwanti tak merasakan kedamaian meski mesin pendingin di kamarnya terus menghamburkan kesejukkan. Ia gelisah karena gundah tengah mencengkeram perasaannya.

Purwanti bahkan telah merasakan gundah itu sejak dua malam lalu ketika sinar bulan yang menyembul di balik daun-daun palem di halaman rumahnya tengah temaram, pucat pasi. Sejak itu, ia selalu uring-uringan mengekspresikan kegalauan hati. Sejak itu, perih sering terasa karena sembilu telah menancap di hatinya.

Sembab di kelopak matanya bukan berarti menggambarkan Purwanti sebagai sosok cengeng. Purwanti perempuan tegar yang telah teruji amukan badai dan tiupan topan kehidupan. Hanya kali ini, Purwanti terjerembab di lubang nestapa yang memilukan hati. Purwanti terkapar. Sesekali senggukan ditahannya agar butiran bening tak menetes dari kelopak matanya.

Peristiwa malam ini disebutnya tragedi. Rentang kehidupan yang telah dilaluinya sejak 30 tahun silam tak sekalipun pernah menampar dirinya, kecuali malam ini, malam kemarin, dan malam sebelumnya.

*

Tiga hari sebelumnya, peristiwa yang dikategorikan Purwanti sebagai tragedi itu dimulai.

Fairus, Ibu pulang Nak, teriak Purwanti memanggil anak semata wayangnya, sesaat setelah mobil krem metalik yang dikendarainya terparkir rapi di garasi. Tak biasanya ia pulang lebih cepat dari kantor tempatnya bekerja di bilangan Sudirman. Badannya terasa sakit, sehingga ia izin pulang lebih awal.

Ooh..kamu di sini toh. Ke sini sayang, peluk Ibu, bujuknya.

Ayo dong sayang.. pintanya lagi.

Ada apa, Nak. Kok kamu diam saja sih? Kamu sakit, sayang? Fairus tak bergeming meski Purwanti membujuknya berulang kali.

Mbok, apa Fairus sakit?

Ndak, kok Bu. Maemnya saja tadi banyak, jawab Wati, si pembantu yang disapa Mbok dari balik dapur.

Apa Fairus ngambek? Fairus tadi minta apa?

Sepertinya ndak ngambek, Bu. Baru saja saya sama Fairus main mobil-mobilan,

Lha ini, Fairus diam saja..tidak seperti biasanya,

Wah, ndak tahu Bu,

Fairus, balita berusia dua tahun itu beringsut dari tempatnya duduk. Bukan Purwanti yang dihampirinya. Sambil tetap memegang mobil-mobilan, Fairus menuju ke arah Wati yang telah berdiri tak jauh dari meja yang menopang televisi dua puluh sembilan inci buatan Negeri Sakura. Fairus merajuk, mengajak Wati kembali bermain.

Purwanti sedikit kaget melihat anaknya lebih memilih si mbok dibanding dirinya. Permintaannya untuk dipeluk Fairus bertepuk sebelah tangan. Si anak bahkan tak sedikitpun menoleh ke arahnya, dan terus merengek agar si mbok mengajaknya kembali bermain.

**

Dingin menyelimuti malam meski mesin pendingin telah dimatikan. Dan dingin semakin mencekam ketika jarum jam lurus mengarah angka tiga yang seketika itu diiringi bunyi khas dentingan jam dinding biru yang menggantung dekat kalender. Karena dentingan itu pula keheningan malam pecah setelah derai tangis Fairus turut membuncah secara tiba-tiba.

Kenapa, Nak? Purwanti seketika terjaga.

Mmmbok..mmbook, telunjuk Fairus mengarah ke luar pintu kamar menghunjam lurus ke arah kamar Wati.

Fairus haus? Ini minum susunya.

Mmmbok..mmbook..

Ini sudah malam, Nak. Nanti lagi mainnya, ya..

Mmmbok..mmbook..mmbok..

Fairus tetap menangis sambil telunjuknya tetap tak bergeming, lurus menghunjam ke arah kamar Wati.

Ya sudah. Kita bangunkan si mbok, ya.. ajak Purwanti yang langsung beringsut menggendong Fairus, melewati Farhan yang mendengkur di pinggir ranjang.

Purwanti tak perlu mengetuk pintu karena Wati telah terjaga setelah mendengar tangis Fairus. Dengan sigap, Wati mengambil Fairus dari gendongan sang majikan dan meninabobokannya dengan dendang lagu yang tak asing didengar balita itu.

Mbok, tidurkan Fairus di kamarmu dulu. Aku masih mengantuk.

Baik, Bu.

Setengah bergegas, Purwanti kembali ke kamar untuk meneruskan tidurnya kembali, memanfaatkan sisa waktu agar badannya segar ketika bekerja nanti. Selimut tebal yang teronggok di bibir ranjang diraihnya untuk menutupi badannya yang telah terhempas di atas kasur empuk. Untuk sesaat, Purwanti menemukan kedamaian yang terenggut hampir tiga perempat jam, malam itu.

Selamat tidur, Nak. Besok kita bertemu kembali, batinnya sambil kelopak matanya terkatup hingga pagi nanti.

***

Kejadian malam itu tak lagi membekas ketika kesibukan kembali mengepungnya. Posisi sebagai manajer marketing mengharuskannya untuk sering keluar kantor bertemu para kilen. Tujuh tahun pengalaman kerjanya sebagai ahli di bidang marketing telah membuatnya memahami betul karakter dan keinginan para klien, sekalipun hanya tersirat.

Ratusan jalan di Jakarta yang berbelit pun sudah hafal dalam ingatannya. Bahkan, jalan-jalan tikus untuk berkelit dari kemacetan juga telah dikenalinya betul. Ruwetnya transportasi Jakarta tak lagi dihiraukannya karena memang begitulah Jakarta apa adanya. Sejatinya, sebagai salah seorang manajer, Purwanti bisa saja mengutus stafnya untuk sekadar closing sebuah kesepakatan dengan para klien.

Namun, bukan ia tidak percaya kepada jajaran stafnya jika ia sendiri harus turun langsung. Hal itu dilakukannya karena memang dialah Purwanti yang perfectionist dalam mengerjakan sesuatu. Purwanti memang tipikal perempuan petarung, demikian rekan-rekan di kantornya sering berkomentar seperti itu.

Keuletannya dalam bekerja dan hasil yang dianggap memuaskan telah menggiring Purwanti menduduki posisi seperti saat ini. Di usianya yang baru genap 30 pada akhir Desember lalu, menghantarkan Purwanti sebagai salah seorang perempuan yang sukses merenda karir dengan cepat.

Sejak jabatan manajer disandangnya, Purwanti harus rela pulang lebih telat dari jam kerja. Baginya, pulang telat sudah menjadi lumrah karena ia memang terbiasa pulang malam karena keasyikan bekerja. Sebelum menyandang jabatan itu pun Purwanti terbiasa pulang di atas jam 9 malam. Kini, paling cepat ia bisa sampai rumah jam 10 malam.

Karirnya yang melesat cepat, ternyata tak berbanding lurus dengan kesuksesannya merenda rumah tangga. Karena kesibukannya bekerja dan sering telat pulang, Purwanti kerap bertengkar dengan Farhan yang juga pulang saat jarum jam menunjuk angka sembilan. Sebagai seorang ibu, Purwanti dituding tak mendetail dalam memerhatikan kondisi dan perkembangan Fairus.

Rengekan Fairus berlanjut hingga malam ini. Sudah tiga malam Fairus merengek minta tidur di tempat si mbok. Bahkan saat ini keinginannya bertambah aneh: Fairus tak mau disentuh Purwanti meskipun hanya sekadar untuk memegangi botol susu. Fairus hanya mau disentuh dan dimanja Wati, sang pembantu.

Sebagai sosok ibu, Purwanti masih memiliki hati untuk memanjakan anaknya itu. Kadang ia ingin merasakan kembali senda gurau dengan Fairus seperti hari-hari kemarin sebelum datangnya tragedi. Ia ingin bermain ciluk-ba atau menciumi Fairus dengan bertubi-tubi, meski Purwanti lebih memercayai urusan makan, mandi, dan meninabobokan Fairus kepada si mbok.

Irisan hati Purwanti mungkin saja tidak seperti yang dimiliki para ibu penjaga anak-anak sepanjang hari. Hati Purwanti telah terbagi untuk kerja dan totalitasnya sebagai perempuan karir. Saat ia tiba di kantor, urusan apapun yang berkiatan dengan rumah tidak diindahkannya, bahkan tak lagi diingatnya. Mungkin hanya seperlima irisan hati yang ia berikan kepada suami, bunga-bunga melati yang masih ia sirami serta Fairus yang kini tengah berulah dan semakin menjadi.

Seperti siang tadi, Purwanti yang tengah menikmati hari Minggu di rumah merasa jengkel pada sikap Fairus. Betapa tidak, setelah semalaman tidur bersama Wati, Fairus masih ogah bertemu dirinya. Purwanti yang ingin memanfaatkan waktu libur bersama buah hatinya harus gigit jari karena setiap didekati, Fairus menjerit, memukul, dan menendanginya.

Purwanti putus asa, apakah Fairus masih menyimpan hati untuk dirinya. Ia merasa Fairus melihatnya sebagai orang asing, tidak sebagai ibu yang setiap anak pasti merajuk dan ingin dipeluk. Ia merasa ada jarak yang terbentang lebar dengan Fairus.

****

Denting suara jam sebanyak sembilan kali terdengar sumbang di telinga Purwanti yang tengah menonton sinetron. Meski matanya tertuju pada kotak kaca bergambar itu, namun ia tak menikmatinya. Fairus tidur di ranjang si mbok yang terlelap di sampingnya. Sementara Farhan yang sedang bermain bulu tangkis di GOR bersama teman-temannya belum juga pulang.

Hanya sebentar Purwanti menonton kotak kaca bergambar yang menurutnya membosankan. Televisi seketika dimatikan. Hatinya galau memikirkan sikap Fairus tadi siang dan dua malam sebelumnya. Purwanti kini tengah meradang. Sesekali senggukan ditahannya agar butiran bening tak menetes dari kelopak matanya. Apakah aku bukan seorang ibu yang baik? bisiknya lirih pada keheningan malam.

Purwanti merasa harus berubah. Tak boleh ia biarkan Fairus menjauh darinya. Ia anaknya dan selamanya akan tetap menjadi buah hatinya. Tapi ia pun harus bekerja karena di sanalah ia temukan arti hidup. Ia tak ingin seperti ibu-ibu lain yang menunggui suami pulang kerja dan menyuapi anaknya dengan memakai daster bermotif bunga.

Lamunannya seketika buyar ketika handphone miliknya berbunyi tanda SMS masuk. Hanya sebentar raut muka Purwanti terlihat senang, selebihnya ia terdiam setelah ia membaca isinya:

Selamat, Bu. Anda dipromosikan sebagai direktur marketing. Mohon hadir besok pada rapat dengan jajaran direksi.

Oleh: Imam Fathurrohman
Dharmapena, April 2008


TAGS Cerpen


-

Author

Follow Me