Sate Maranggi Cibungur: Menu Juara Penggugah Selera

1 May 2012

2493fb70c1b813e42231f4819635eac2_maranggi-1Cuaca siang ini tak seekstrim biasanya. Guyuran hujan diselingi gelegar petir yang menjadi fenomena seminggu terakhir di wilayah Ibukota Jakarta dan sekitarnya, tak kunjung terlihat. Siang ini, di penghujung Februari, sinar matahari begitu terik menyengat. Langit terlihat cerah, meski di sebelah barat Jakarta, awan mulai tampak bergerombol membentuk gundukan yang menghitam.

Siang ini, saya dan tim majalah DUTA RIMBA dari Perum Perhutani akan mengunjungi sebuah tempat yang terkenal di Cibungur, Purwakarta, untuk berwisata kuliner menikmati kelezatan Sate Maranggi. Sebuah tempat dengan sajian masakan yang memang telah lama menjadi rekomendasi para petualang kuliner. Konon, warung makan yang lokasinya 3 kilometer dari pintu tol Cikopo Purwakarta atau yang lebih dikenal dengan pintu tol Cikampek itu, tidak pernah sepi dari pengunjung. Apalagi jika di akhir pekan atau musim liburan.

Informasi itu ternyata benar. Saat memasuki area parkir warung makan Sate Maranggi dan Es Kelapa Muda Cibungur, tampak kendaraan beroda empat dengan pelat B, D, dan T memenuhi area parkir yang luasnya sekitar 1.000 m2. Para pengunjung terlihat menikmati makanan di sejumlah titik di warung makan yang didisain dengan konsep outdoor itu. Jika dihitung, setidaknya terdapat seratus lebih pengunjung yang datang. Padahal, saat itu, kami datang satu jam lebih telat dari jam makan siang. Artinya, saat jam makan siang, tentu lebih banyak lagi pengunjung yang memadati warung makan tesebut.

Menemukan warung makan Sate Maranggi dan Es Kelapa Muda Cibungur sangatlah mudah. Posisinya yang tak jauh dari pintu tol Cikopo Purwakarta (pintu tol Cikampek) dapat dijangkau konsumen, baik yang datang dari arah Bandung maupun Jakarta. Bagi konsumen dari Jakarta, tempat ini dapat dicapai hanya dengan 2 jam perjalanan. Namun bagi konsumen yang berasal dari Bandung, tempat ini dapat dijangkau lebih cepat, hanya sekitar 1 jam melalui tol Cipularang.

Pada wisata kuliner kali ini, kami ditemani rekan-rekan dari Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Purwakarta. Turut dalam rombongan Ketua Tata Usaha KPH Purwakarta Nur Ichwan Fibrianto, SE, MM, Juhdi (Fasilitator PHBM), dan Wahyudiaman (Kaur Umum). Ketiganya turut berpetualang kuliner bukan tanpa alasan. Nyatanya, ada ikatan persaudaraan antara Perum Perhutani dan Warung Makan Sate Maranggi dan Es Kelapa Muda Cibungur.

Sejak tahun 2006, warung makan Sate Maranggi dan Es Kelapa Muda Cibungur merupakan mitra kerja Perum Perhutani. Sebagian lokasi usaha warung makan tersebut berada di atas lahan tanaman jati yang dikelola Perum Perhutani KPH Purwakarta. Kerjasama ini tentu saja membuat Perum Perhutani KPH Purwakarta dapat berbangga diri karena turut berpartisipasi meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah operasinya.

13bbe4af33f9ef158eef5de96f81c628_cibungur1Tenda Plastik dan Empat Kayu Penyangga
Adalah H. Sawon Suharyono (60), pengelola warung makan Sate Maranggi dan Es Kelapa Muda Cibungur, yang berkisah tentang usaha warung makan tersebut. Sosok ramah dan murah senyum ini begitu lugas mengurai kisah kesuksesan warung sate yang saat ini telah termasyhur hingga mancanegara.

Awalnya, menurut mantan kepala desa ini, sekitar tahun 1980an warung ini menjual Es Kelapa Muda. Kemudian setelah berjalan beberapa tahun, atas saran para konsumen, di tahun 1990 menu sajian ditambah dengan berjualan Sate Maranggi.

Perjalanan sukses warung ini pun terus berlanjut. Jika awalnya warung ini hanya bertudungkan tenda plastik dengan empat kayu sebagai tiang penyangga, kini, bentuk warung pun berubah lebih besar dengan menempati lahan yang jauh lebih luas. Begitu pun dengan pembeli. Jika di awal berjualan hanya sekitar 20an pembeli dalam sehari, kini jumlah pembeli mencapai ratusan dalam sehari, bahkan ribuan pada hari-hari libur.

Untuk melayani ratusan hingga ribuan pembelinya, warung makan Sate Maranggi dan Es Kelapa Muda Cibungur didukung oleh hampir 100 karyawan. Dengan dukungan para karyawan itu para pembeli dijamin terpuaskan, baik dari sajian menu maupun pelayanannya. Dibandingkan saat awal berjualan, jumlah karyawan ini tentu saja meningkat berkali lipat. Dulu, karyawan hanya berjumlah 20 orang.

Para pembeli dapat menikmati Sate Maranggi dan menu lainnya sejak pukul 07.00 hingga 18.00 WIB setiap hari. Namun jika Sabtu dan Minggu serta hari-hari libur, warung ini dapat melayani pembeli hingga pukul 20.00 WIB. Pengecualian juga berlaku jika ada konsumen yang booking hingga melewati jam operasi.

Warung makan Sate Maranggi dan Es Kelapa Muda Cibungur juga dilengkapi sejumlah fasilitas penunjang, antara lain toilet bersih, mushalla, area parkir gratis, dan sebuah galeri yang menjual bermacam merchandise. Di galeri ini para pengunjung dapat membeli sejumlah barang-barang khas Purwakarta seperti hasil kerajinan keramik dan lain sebagainya.

Satu hal yang perlu diketahui, warung makan Sate Maranggi dan Es Kelapa Muda Cibungur tidak memiliki cabang di manapun. Menurut H. Sawon, hal ini dimaksudkan untuk menjaga cita rasa Sate Maranggi. Sebab kalau buka cabang, kami agak sulit memantau keunikan rasanya. Beda koki kan beda juga hasil masakannya, ujar H. Sawon berkilah.

Rahasianya: Racikan Istimewa
Di samping terkenal dengan kelezatan Sate Maranggi, warung makan ini juga dikenal dengan keramah-tamahannya dalam memanjakan konsumen. Hal ini sesuai dengan nama Maranggi yang berasal dari Bahasa Sunda, Marangga yang bermakna silakan. Menurut H. Sawon, memperlakukan konsumen bak raja merupakan salah satu kunci sukses warung makan ini. Di sini pembeli juga tidak perlu berlama-lama menunggu pesanan, sebab pesanan akan segera hadir kurang dari 5 menit.

Perbedaan Sate Maranggi Cibungur dengan sate lainnya adalah dari proses pembuatannya. Dalam pembuatan Sate Maranggi, daging yang telah dicincang kemudian dibaluri bumbu-bumbu khusus. Setelah itu daging ditusuk, dibakar, dan disajikan hanya dengan sambel tomat dan cabe rawit yang ditumbuk kasar ditambah kecap. Sate lainnya kan umumnya menggunakan sambel kacang dan lain sebagainya. Sate Maranggi tidak menggunakan tambahan itu. Kami memiliki racikan istimewa untuk menu juara ini, papar H. Sawon.

Mengenai racikan istimewa Sate Maranggi ini, H. Sawon sendiri mengaku kurang mengetahuinya. Menurutnya, racikan istimewa ini dikirim khusus dari peracik bahan di Cikampek, Karawang. Dan, sudah menjadi kode etik di warung makan tersebut jika racikan istimewa tidak diberikan kepada sembarang orang. Dengan racikan istimewa tersebut, pembeli dijamin terpuaskan dengan empuknya daging Sate Maranggi dan bumbu-bumbunya yang meresap serta memiliki cita rasa paduan manis, asam, dan pedas.

Racikan istimewa ini juga yang menjadi pembeda Sate Maranggi khas Cibungur dengan Sate Maranggi khas Cianjur. Perbedaan paling jelas adalah Sate Maranggi Cianjur disajikan dengan sambal oncom, dan biasanya ditemani ketan bakar. Dagingnya menggunakan daging sapi yang sudah dibumbui, dengan rasa ketumbar yang menonjol.

Dalam sehari, warung makan ini dapat menghabiskan 70 80 kg daging, baik daging sapi maupun daging kambing. Namun jika Sabtu dan Minggu, daging yang digunakan bisa mencapai lebih dari satu kwintal. Daging didatangkan khusus dari pemasok tetap yang terjamin kehalalan dan kebaikannya.

Selain Sate Maranggi, para konsumen dapat menikmati menu lainnya. Warung makan ini menyediakan juga sejumlah menu juara, antara lain Gurame Bakar, Ayam Bakar, Sop Daging, dan beragam minuman termasuk Es Kelapa Muda Cibungur yang tersohor sejak tahun 1980an. Racikan Es Kelapa Muda tidak berubah sejak pertama. Menurut H. Sawon, pihaknya memiliki ramuan khusus untuk membuat Es Kelapa Muda yang khas. Sementara kelapa muda dipilih dari buah kelapa yang tidak terlalu muda, pun tidak terlalu tua.

Kami memiliki karyawan yang sudah sangat berpengalaman mengetahui jenis buah kelapa apa saja yang pas untuk Es Kelapa Muda. Racikannya tetap kami pertahankan sejak dulu. Hal ini pun masukan dari pengunjung. Sepertinya mereka belum puas jika sesudah makan, tapi tidak minum Es Kelapa Muda, jelas H. Sawon.

Untuk menyantap beragam menu di warung ini, para pengunjung tidak perlu merogoh kantong dalam-dalam atau mengernyitkan dahi karena khawatir kemahalan. Harga-harga di warung ini relatif sangat murah, apalagi jika dibandingkan dengan rasa juara dari menu-menu yang ada. Satu tusuk Sate Maranggi dihargai Rp. 1.500,- saja, sementara Nasi Timbel seharga Rp. 5.000,- per buah. Adapun Ayam Bakar Rp. 60.000,- per ekor dan Rp. 12.000,- per potong, Sop Daging Rp. 12.000,- per porsi, dan Es Kelapa Muda Rp. 10.000,-.

Sukses Bersama Opini Konsumen
Diakui H. Sawon, mendengarkan saran-saran konsumen menjadi salah satu kunci sukses warung makan Sate Maranggi dan Es Kelapa Muda Cibungur. Sejak awal berdirinya warung, ketika masih berjualan Es Kelapa Muda dengan konsumennya yang hanya puluhan saja, hingga kini di mana ribuan konsumen memadati warung, konsumen memiliki peran penting. Atas saran para konsumen lah menu Sate Maranggi dapat dinikmati hingga selezat saat ini. Para konsumen pula yang memberi masukan menu apa saja yang sebaiknya disediakan untuk menemani Sate Maranggi.

Begitu pula tentang bentuk warung yang mengalami perubahan. Saat ini, warung makan berbentuk outdoor dengan meja-meja dan bangku-bangku yang diatur rapi di sekitar area perkebunan tanaman jati milik Perum Perhutani KPH Purwakarta. Sejak awal, warung sudah menempati area perkebunan tanaman jati, sehingga menambah kesan natural. Lantainya pun hanya berupa plesteran semen, sekadar menghindari becek saat musim hujan. Rupanya, hal inilah yang disukai para konsumen. Sebuah tempat makan di alam terbuka di bawah rerimbunan tanaman pohon jati.

Konep seperti ini memang sudah merupakan ciri khas dan komitmen kami untuk menjaganya. Kami tidak ingin konsep warung seperti di kota yang lantainya dipasang keramik, dipasang AC, dan lain sebagainya. Konsep ini kami terapkan berdasarkan masukan dari para konsumen yang menginginkan warung sate tetap menampilkan konsep natural, jelas H. Sawon.

Dengan konsep seperti ini, tampaknya, para konsumen lebih menikmati suasana tempat makan yang tidak ber-AC sambil menikmati semilir angin dan sedikit berpanas-panasan. Mungkin, menurut H. Sawon, karena orang-orang kota terbiasa makan tidak berkeringat. Sementara di sini ketika mereka makan pasti berkeringat, karena selain tempatnya tidak ber-AC, air teh tawar yang disuguhkan pun masih panas, nasi timbel panas, dan satenya juga masih panas.

Kenyamanan menyantap Sate Maranggi dalam warung berkonsep outdoor ini juga diamini Arfa, salah seorang pengunjung dari Bandung yang ditemui kami. Menurutnya, makan di alam terbuka, di antara rerimbunan pohon jati dan semilir angin membuatnya serasa di perkampungan. Ditambah dengan kelezatan Sate Maranggi yang diakuinya jempolan membuat dirinya sering berkunjung ke tempat ini bersama keluarga.

Suasananya asyik, apalagi seperti kita makan di alam bebas, meski sedikit gerah setelah makan. Saya suka makan Sate Maranggi karena berbeda dengan sate lainnya. Daging Sate Maranggi empuk dan bumbunya meresap, katanya. []

Sumber Foto: Dok.DUTA RIMBA/Ade Sudiman
Tulisan saya ini dimuat juga dalam Majalah Perum Perhutani No. 41/Th. 7/Januari - Februari 2012


TAGS Petualangan Kuliner


-

Author

Follow Me