Ayam Bakar Mak Gogok: Jagoan Kuliner Dari Genjahan

5 Jun 2012

aace4d0158f873dd4527a9e3d8df850b_kuliner-2Bagi masyarakat Blora atau yang terbiasa melintasi wilayah perbatasan Jawa Tengah Jawa Timur, tentu sering mendengar nama bekenrumah makan ayam bakar Mak Gogok. Meski lokasinya di pelosok desa dan jauh dari jalan utama, rumah makan ini selalu laris dan dicari orang. Sajian ayam bakar yang khas berbalut bumbu-bumbu unik ini menjadi incaran para pelancong, terutama pemburu kuliner. Meski nyatanya mereka harus melewati jalanan yang tak mulus dan rajin bertanya karena letaknya yang tersembunyi. So, apa sih istimewanya ayam bakar Mak Gogok?

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya dan tim DUTA RIMBA sengaja mengunjungi rumah makan yang terletak di tengah Desa Genjahan, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora, atau sekitar 1,5 kilometer dari Jalan Raya Blora-Cepu dan sekitar 10 kilometer dari Kota Blora. Selepas berburu berita di wilayah Cepu, kami pun langsung menuju rumah makan ayam bakar Mak Gogok yang tersohor itu.

Beruntung bagi kami. Meski datang selepas jam makan siang, persediaan ayam bakar Mak Gogok masih ada. Karena biasanya, kurang dari pukul 14.30 waktu setempat, ayam bakar sudah ludes dilahap para pembeli. Dan, Sambil menunggu pesanan ayam bakar, kami mencoba mengobrol santai dengan pengelola rumah makan ayam bakar Mak Gogok untuk mengorek resep dan perjalanan sukses mereka.

Pengelola ayam bakar Mak Gogok adalah sepasang suami isteri, Yahman Sasmito (71 tahun) dan Sarti (64 tahun). Sejak tahun 1996 keduanya berjualan ayam bakar dengan dibantu oleh anak-anak mereka. Dari sinilahsuccess storyayam bakar Mak Gogok bermula.

Menurut Sarti, yang lebih sering disapa dengan sebutan Mak Gogok, keistimewaan ayam bakar buatannya adalah dari baluran resep yang digunakannya. Selain itu, pilihan ayam kampung dan cara pengolahannya pun menjadi pembeda dari ayam bakar lainnya. Sarti hanya akan memilih ayam kampung betina berusia 7 bulan sebagai bahan utama. Tentu saja ayam kampung yang digunakan pun bukan sekadar ayam kampung liar yang dipelihara kebanyakan masyarakat desa. Ayam kampung tersebut ia dapatkan dari penyalur yang merupakan peternak khusus ayam kampung, sehingga pakan yang dikonsumsi ayam kampung itu pun terjaga kualitas gizinya.

Awalnya kami memelihara sendiri ayam kampung. Tapi, seiring makin banyaknya pesanan, kami sudah tidak sanggup lagi. Sekarang ada penyalur ayam kampung yang setiap saat bisa menyuplai kebutuhan kami, kata Yahman menjelaskan.

Dalam sehari, Sarti mengaku menghabiskan 60 70 ekor ayam kampung. Pada jam-jam tertentu, seperti jam makan siang, warung makan yang buka sejak pukul 08.00 WIB ini selalu penuh. Umumnya mereka adalah para pekerja di perusahaan-perusahaan sekitar wilayah itu, seperti Perum Perhutani KPH Cepu dan PT. Pertamina (persero) Depot Cepu. Secara berkelompok, para pembeli ini bisa duduk berbarengan sambil menikmati ayam bakar dan sajian lainnya.

Omzet warung makan ayam bakar Mak Gogok akan membengkak jika mendapatkan pesanan besar. Misalnya, saat warung makan ini mendapat kunjungan Bupati Blora yang mengadakan syukuran bersama masyarakat setempat. Dari 400 undangan yang disebar, kenyataannya lebih dari 1000 orang datang sambil menikmati sajian warung makan Mak Gogok.

Resep Warisan Mbah Kandar
a8fb77b802fb730b4da610583b600a8a_kuliner-11Ayam bakar Mak Gogok memang memiliki cita rasa berbeda dibanding ayam bakar lainnya. Saat saya memindai lebih lanjut tentang keistimewaannya, diketahui jika resep ayam bakar yang digunakan Sarti, sejatinya merupakan warisan dari neneknya, Mbah Kandar. Sarti yang sejak kecil tinggal dengan Mbah Kandar yang bekerja sebagai sinder kehutanan, sudah terbiasa membantu Mbah Kandar yang memang sering mendapatpesanan makanan.

Berbeda dengan ayam bakar lainnya yang sudah menggunakan oven atau alat masak modern lainnya, warung makan ayam bakar Mak Gogok masih setia menggunakan anglo, yakni tungku dari tanah liat sebagai alat memasak utamanya. Anglo sepanjang 2 meter ini dibuat memanjang dengan lubang di tengah sebagai tempat pembakaran kayu.

Jika dilihat lebih cermat, proses memasak ayam bakar Mak Gogok ini pun cukup unik. Ayam kampung yang sudah dibersihkan, tanpa dibumbui terlebih dahulu, langsung dibakar sampai dagingnya berwarna agak kecoklatan. Setelah itu, ayam tersebut direbus bersama-sama dengan bumbu dalam sebuah wajan atau penggorengan berdiameter satu meter selama satu jam. Bumbu-bumbu yang digunakan antara lain bawang merah, bawang putih, cabai merah, cabai rawit, gula merah, kunir, asam, kencur, tumbar, jinten, dan santan. Bumbu-bumbu itulah yang menyebabkan daging ayam itu terasa gurih, manis, bercampur dengan rasa pedas.

Dalam keadaan utuh, ayam itu dibakar kembali di atas anglo perapian arang. Pembakaran itu bertujuan untuk meresapkan bumbu sekaligus memberikan cita rasa bakar dan asap bakaran. Saat disajikan, Mak Gogok menambahkan bumbu santan pedas dan sambal terasi di atas cobek.

Hingga kini resep itu tetap kami pertahankan. Hanya saja, kami juga melakukan penambahan, antara lain mentimun dan kemangi sebagai lalapan. Itu pun dapat dipesan sesuai selera pembeli, karena ada juga yang tidak mau memakan lalapan, kata Yahman.

Para pembeli umumnya memesan ayam bakar Mak Gogok satu ekor utuh. Itulah mengapa para pembeli lebih sering datang berkelompok untuk menyantap satu ekor ayam bakar secara beramai-ramai. Namun, untuk pembeli yang datang sendiri, mereka dapat memesan potongan ayam sesuai porsinya.

Biasanya sebelum ayam bakar diantarkan ke meja, pembeli akan disuguhi pisang goreng sebagai makanan pembuka. Setelah itu ayam bakar akan disajikan lengkap dengan sambal terasi, sayur bobor (pepaya muda dimasak santan lalu diberi bayam dan jagung),sate jeroan ayam (hati dan ampela), tempe goreng, serta lalapan yang terdiri dari rebusan bayam, lalap kubis, daun kemangi, danmentimun.

Selain ayam bakar, warung makan Mak Gogok juga menyediakan asem-asem ayam kampung. Menu istimewa ini hanya dimasak jika ada permintaan. Asem-asem merupakan olahan ayam kampung yang dimasak dengan cita rasa asem-asem dan dibungkus daun pisang. Menu ini harus dipesan terlebih dahulu karena tidak tahan lama. Jika terlalu lama, asem-asem ayam kampung akan berubah bau dan cita rasanya.

Soal harga, untuk satu ekor ayam bakar Mak Gogok dipatok dengan harga Rp. 75.000. Terasa agak mahal, memang, namun untuk membayar kelezatan ayam bakar Mak Gogok, harga senilai itu dirasa pantas.

Ejekan Berbuah Hoki
293b91b60295ca1e4c3de55fa7fa12e2_kuliner-12Sebelum kesuksesan diraih warung ayam bakar Mak Gogok, perjalanan panjang berkelok nan terjal pun sempat dialami Yahmin dan Sarti. Sebelum berjualan ayam bakar, pada tahun 1992, sepasang suami isteri ini sempat beberapa kali gonta-ganti jualan, antara lain berjualan nasi pecel, sate kambing, dan soto. Keduanya berjualan dengan mangkal di pinggir jalan dengan modal Rp.20.000,- hasil menjual kalung emas milik anaknya.

Dirasa jualan nasi pecel, sate kambing, dan soto tidak cukup berkembang, keduanya pun berjualan ayam bakar. Secara perlahan ayam bakar hasil jualannya pun laris dan diminati banyak orang. Awalnya, mereka hanya melayani pesanan tetangga dan kantor-kantor kelurahan. Namun semakin lama, usahanya berkembang pesat.

Empat tahun kemudian, keuntungan yang didapat dari berjualan ayam bakar berbuah manis. Pembangunan masjid di kampungnya menjadi jalan berkah bagi keduanya. Sepanjang tujuh bulan proses pembangunan masjid, Mak Gogok mendapat pesanan makanan untuk para pekerja bangunan. Alhasil, dengan keuntungan dari pesanan tersebut Yahmin dan Sarti mampu membeli rumah, yang kini dijadikan warung makan ayam bakar Mak Gogok.

Nama Mak Gogok sendiri berarti Ibunya Gogok. Gogok adalah panggilan ejekan terhadap putra pertama Yahmin dan Sarti. Namun siapa sangka, nama ejekan tersebut justeru kini menjadi hoki sekaligus lambang kesuksesan keduanya.

Dari berjualan ayam bakar inilah keempat anak kami telah menyelesaikan pendidikan dan bekerja. Anak pertama kami berdinas di Perhutani KPH Blitar, anak kedua berwirausaha, anak ketiga bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jakarta, dan yang terakhir sebagai dosen di kawasan Ciputat, Banten, papar Sarti penuh bangga.

Banjir Permintaan Franchise
45abe07413c26d93b2ce4b013a5477cf_kuliner-13Kelezatan ayam bakar Mak Gogok rupanya menarik sejumlah pengunjung untuk membuka cabang warung makan ayam bakar dengan nama Mak Gogok. Permintaan dengan sistem franchise datang dari berbagai daerah, baik dari Blora, wilayah Jawa Tengah lainnya, Jawa Timur, hingga Jakarta. Menurut Yahman, permintaan terbanyak datang dari Jakarta. Bahkan kalau diijinkan, mereka sudah siap dengan lahan yang akan ditempati.

Namun atas berbagai pertimbangan dari anak-anak mereka, tak satupun permintaan franchise dipenuhi. Alasannya, keempat anak Yahmin dan Sarti berencana untuk mengembangkan sendiri rumah makan ayam bakar Mak Gogok. Kini, satu cabang rumah makan ayam bakar Mak Gogok telah dibuka sejak setahun lalu.

Rumah makan cabang yang dimaksud berada di dekat Mapolres Blora dengan tempat yang lebih luas dari rumah makan Mak Gogok di Genjahan. Di tempat ini, pengelolaan rumah makan diserahkan kepada anaknya yang kedua. Soal cita rasa ayam bakar Mak Gogok agar tetap terpelihara, Sarti memiliki caranya. Ia melatih calon juru masak selama enam bulan. Setelah dirasakan cukup mahir, Sarti hanya sesekali mengunjunginya untuk melihat perkembangan.

Di cabang ini justeru lebih ramai, karena letaknya di kota. Parkirnya juga lebih luas. Dan ke depan, rencananya anak kami di Jakarta juga mau buka cabang di sana. Sekarang ini sedang cari-cari lahan yang tepat untuk berjualan, kata Sarti.

Alamat:
Rumah Makan Ayam Bakar Mak Gogok
Depan SD Genjahan 1, Desa Genjahan, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora.
Telp. 0296 525347 (Hp) 0812 2510 7168

Oleh: Imam Fathurrohman


TAGS Petualangan Kuliner


-

Author

Follow Me