Sujud Terakhir Nyi Iha

15 Jul 2012

4d2ce5eddc436dd929698229941eec95_muslimah2Hari mulai gelap saat mentari bertukar tempat dengan rembulan yang perlahan beranjak naik. Cuaca cerah sejak pagi menyisakan sepoi angin malam yang khas bercampur aroma kabut. Inilah senja, permulaan malam nan sempurna. Paling tidak, begitulah pikir rambetuk dan tonggeret yang memang menyukai suasana malam berbintang.

Gema adzan Maghrib dari langgar-langgar dan masjid-masjid, mulai bersahutan. Meski berbenturan, namun gemuruh adzan tetap saja meluruhkan keangkuhan manusia yang bergelimang gulana. Adzan senja kala itu menyeka getir dan kepenatan jiwa. Mengajak manusia untuk segera menepi dari segala aktifitas sepanjang hari, bersimpuh dengan segetir-getirnya ratapan pada Ilahi.

Tak berapa lama selepas adzan mereda, rembulan menunjukkan bulatannya pada alam. Cahayanya yang memerah setengah matang membinarkan kegembiraan atas cerahnya malam itu. Dua, tiga, empat, lima Ya, lima bintang di dekat bulan terlihat begitu terang. Sorot lampu taman sepanjang jalan di Telaga Kahuripan menjadi percuma karena cahaya bulan begitu sempurna.

Di sebuah rumah sebelah pojok sebuah lapangan bola, hiruk pikuk kembali terulang. Setelah keramaian menjadi suasana sepanjang hari, kini hingar bingar kembali terjadi. Rumah penuh hiasan itu mulai didatangi beberapa undangan yang hendak memberikan ucapan selamat kepada sepasang pengantin. Baru sedikit, memang, karena umumnya mereka paham jika pengantin akan kembali bersanding di singgasananya selepas Isya.

*****

Tidak berapa lama, terdengar suara Adzan Isya. Nyi Iha yang sudah cantik dirias sadar jika wudlu-nya sudah batal.

“Mi, waktu Isya sudah masuk. Ayi mau wudlu dan shalat dulu,” pinta Nyi Iha.

“Jangan atuh, Ayi.. kamu kan sudah di-make up. Bagaimana kalau luntur make up-nya?” sergah si Ibu.

“Iya, Neng… nanti lama lagi diriasnya. Kasihan suami baru kamu sendirian di pelaminan. Kasihan juga kan para tamu sudah banyak yang datang,” Nyi Larung yang menjadi juru rias menimpali.

“Ah, biarin saja, Nyai. Saya janji sebentar saja,” Nyi Iha memaksa.

“Ayi, cing dengerin Umi. Shalat Isya mah panjang waktunya. Nanti saja, jangan sekarang!” kata Nyi Sumi setengah membentak.

“Umi..”

“Tidak, Ayi. Umi akan marah jika Ayi tetap memaksa. Kasihan para tamu dan suami kamu di luar. Mereka sudah lama menunggu kamu,” tandas Nyi Sumi.

“Enggak, Umi. Ijinkan Ayi shalat Isya dulu. Sebentar kok,” Ayi keukeuh memaksa. Dengan setengah berlari ia pun masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudlu.

“Ayi, Ayi…” Nyi Sumi berteriak. Untung saja kejadian itu di dalam kamar pengantin, sehingga kegaduhan tadi tidak terdengar hingga ke luar kamar.

Nyi Sumi dan Nyi Larung terdiam, sama-sama memendam kesal. Jika Nyi Sumi kesal karena perintahnya tidak dituruti Nyi Iha, sementara Nyi Larung kesal karena riasan buah karyanya sudah pasti sia-sia. Apalagi jika harus menghitung berapa lama lagi Nyi Larung kembali merias. Tentu dibutuhkan waktu lebih lama.

Setelah berwudlu, Nyi Iha pun segera shalat. Nyi Sumi dan Nyi Larung yang masih kesal tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali memandangi Nyi Iha dengan keteguhannya. Rakaat demi rakaat yang diperagakan Nyi Iha tak lepas dari perhatian kedua perempuan di tengah kamar itu. Hingga pada sujud kedua di rakaat ketiga, tubuh Nyi Iha terdiam, lama tidak bergerak.

Nyi Sumi dan Nyi Larung yang sejak tadi tak bersuara memahami kondisi itu sebagai hal biasa. Bukankah disunnahkan dalam sujud untuk berlama-lama memanjatkan tasbih, tahmid, dan permohonan kepada Allah? Itu juga yang pernah didengar Nyi Larung dari Aki Eyot saat kulpeu (kuliah sampeu, ceramah sambil makan singkong/sampeu) sore kemarin.

Lima menit berlalu. Posisi tubuh Nyi Iha tidak berubah, masih tersungkur dalam sujud. Tampaknya Nyi Iha benar-benar dalam kondisi ekstasi, pikir Nyi Larung. Memasuki menit ketujuh, posisi Nyi Iha masih sama, tidak bergerak. Kali ini, sujud Nyi Iha benar-benar lama.

“Ayi, cepetan. Shalatnya jangan kelamaan,” kata Nyi Sumi yang masih memendam kesal.

Tubuh Nyi Iha tetap tidak bergeming. Nyi Sumi dan Nyi Larung rupanya tidak sadar jika itulah kali terakhir Nyi Iha sujud dalam shalatnya. Nyi Iha pergi untuk selamanya.

Didorong ketidaksabarannya, Nyi Sumi mendekati Nyi Iha untuk menepuk punggung putrinya. Saat tangannya menepuk punggung, saat itu pula tubuh Nyi Iha tersungkur membujur kaku. Tubuh Nyi Iha terlentang dengan senyum menghias di bibirnya. Wajahnya putih mengeluarkan cahaya yang sangat gemilang.

Nyi Iha tak bernapas.

Sontak Nyi Sumi bergetar melihat tubuh kaku putri bungsunya. Perempuan beranak empat ini berteriak histeris. Nyi Larung segera beranjak mendekati Nyi Iha. Dengan sigap Nyi Larung menempelkan telunjuknya ke bagian bawah hidung Nyi Iha.

Nyi Iha tak bernapas.


TAGS Celoteh Mang Ndut


-

Author

Follow Me