Menjaga Semangat Ramadhan

9 Sep 2012

a261287d627f54e5db1ad69e7780f384_tadarusanSebulan sudah kita berpisah dengan Ramadhan. Namun, keping-keping nuansanya masih saja terekam dalam ingatan. Semilir angin khas Ramadhan di tengah terik matahari, hiruk-pikuk penjaja makanan menjelang berbuka, ramainya mushalla dan masjid oleh jamaah Tarawih, hingga semarak tadarus Al-Quran hingga Subuh menjelang. Ramadhan menyisakan keistimewaan sepanjang jaman. Pantas saja jika Rasulullah mengatakan betapa Ramadhan penuh dengan keistimewaan, terlebih bagi orang-orang yang berharap Ramadhan datang setiap saat sepanjang tahun.

Keistimewaan tersebut di atas barulah sekadar bentuk lahiriyah. Belum lagi kenikmatan bathiniyah yang dianugerahkan Allah bagi orang-orang yang dikehendaki-Nya. Kenikmatan saat berbuka dan bertemu dengan Allah di keheningan malam menjadi momen teristimewa. Belum lagi kenikmatan Lailatul Qadr yang dirasakan orang-orang teristimewa di bulan nan suci itu. Subhanallah, mengingat Ramadhan hanya akan menggiring kita pada sebuah doa: Ya Allah, pertemukan kami kembali pada Ramadhan!

Untuk kembali meraih kenikmatan Ramadhan diperlukan jalinan cinta yang dapat kita ekspresikan seperti halnya yang kita lakukan saat Ramadhan. Di bulan suci itu, di saat cinta kita menggelora, beragam ibadah kita lakukan. Sejak sahur, berpuasa mengendalikan hawa nafsu, hingga ibadah Qiyamullail, kita lakukan dengan mengharap ridha-Nya. Namun sayang, aktifitas cinta itu berkurang drastis saat Ramadhan berlalu. Semangat beribadah kita kepada Allah perlahan menurun bahkan luntur. Padahal jalinan cinta kita saat Ramadhan adalah ekspresi kecintaan kita kepada Allah Azza wa Jalla.

Beruntunglah orang-orang yang mampu menjaga konsistensi ibadah mereka hingga di luar Ramadhan. Kecintaan mereka kepada Allah teraplikasikan secara kontinyu dalam setiap kesempatan, bahkan tidak mampu dibatasi ruang dan waktu. Orang-orang yang mampu menjaga konsistensi inilah yang sangat dicintai Allah. Sebuah pertanyaan tentang ini pernah dialamatkan kepada Nabi Muhammad Saw.: “Apakah amalan yang paling dicintai Allah? Beliau menjawab: “Amalan yang dilaksanakan secara berkesinambungan (kontinyu) walaupun sedikit” (HR. Bukhari).

Sebagai panutan –seperti yang digambarkan Aisyah r.a. dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim– Rasulullah Saw. merupakan sosok yang sangat konsisten dalam beribadah kepada Allah. Kita sebagai umatnya, tentunya ingin mengikuti jejak beliau. Namun, sebagai individu biasa, kita memiliki hati yang kondisinya berubah-ubah setiap saat. Sesekali hati kita ingin berlomba-lomba untuk beribadah kepada Allah, tapi di saat lain hati ini ingin bersantai-santai dalam beribadah. Bahkan, bagi yang tidak rajin mengasah hatinya, ia tak jarang terjerumus pada kemaksiatan. Naudzu billah min dzalik.

Agar semangat kita tetap terjaga seperti saat Ramadhan ada beberapa tips yang dapat kita lakukan, yakni:

1. Menetapkan niat dan target
Niat menjadi suatu keharusan dalam setiap tindakan. Niatkan diri kita untuk selalu beribadah kepada Allah dan teruslah bermohon diri agar DIA berkenan menetapkan hati kita untuk beribadah kepada-Nya. Setelah itu, tetapkan target secara detail, bukan hanya target secara garis besar. Buatlah target harian atau mingguan atau per-10 harian. Melalui target itu kita dapat menjadwalkan diri kita, pagi ini kita melakukan a, siangnya b, malamnya c dan seterusnya.

2. Muhasabah (evaluasi diri)
Ketika niat dan target sudah ditetapkan lalu diaplikasikan, kita perlu mengevaluasi ibadah yang sudah dilakukan. Bila mampu mencapai target, kita patut bersyukur kepada Allah dan boleh saja berikan hadiah untuk diri sendiri agar kita terpacu mengejar target selanjutnya. Sebaliknya, bila target tidak terpenuhi, kita evaluasi apa saja kendala untuk mencapai target tersebut dan bagaimana cara mengatasinya.

3. Tambahkan suplemen semangat
Jika dalam kesendirian kita dapat menikmati ibadah kepada Allah, boleh jadi kenikmatan itu akan semakin bertambah ketika kita melibatkan orang lain. Dalam konteks ini, melibatkan istri/suami, anak-anak, atau saudara ketika beribadah, di samping akan menambah kenikmatan, insya Allah, kita pun akan mendapatkan pahala berlebih dari Allah. Di luar itu, semangat kita akan berlipat ketika ada orang lain menemani kita dalam beribadah. Bersama mereka yang kita ajak beribadah, kita bisa saling menyemangati sehingga hati kita akan terus berpacu dalam melakukan ibadah. Inilah salah satu bentuk fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) yang Allah perintahkan kepada hamba-Nya.

*****

Ramadhan yang hadir sekali dalam setahun memang menghadirkan beragam keistimewaan bagi kita yang senantiasa berusaha meraih derajat Muttaqien. Berlipatnya hitungan pahala di bulan itu melambungkan semangat kita untuk terus beribadah kepada Allah. Namun di luar Ramadhan aktifitas ibadah kita harus terus terjaga. Kita musti berupaya menghidupkan semangat Ramadhan di luar Ramadhan.

Mari buka kembali catatan beberapa aktifitas Ramadhan yang seyogianya dapat kita praktikkan dalam keseharian kita. Upayakan untuk dapat melakukan puasa sunnah untuk mengingat semangat puasa di bulan Ramadhan. Lakukan Qiyamullail agar nuansa Tarawih di bulan Ramadhan terus kita rasakan. Buka dan baca Al-Quran agar aktifitas Tadarus yang kita lakukan saat Ramadhan terus bersambung hingga sekarang. Dan yang terpenting adalah terus kendalikan nafsu kita agar tidak terjerumus pada nafsu amarah yang sangat dibenci Allah Azza wa Jalla. Jaga lisan, mata, telinga, tangan, kaki, hati, dan seluruh anggota tubuh kita agar nafsu amarah yang bersemayam perlahan-lahan berubah menjadi nafsu muthmainnah.

Aktifitas ibadah sosial pun tidak boleh kita hentikan. Tetaplah bersedekah, berbagi kebahagiaan dengan kelompok Mustahiq. Rajin-rajinlah menanam amal kebajikan di tengah-tengah lingkungan kita. Salurkan sebagian rejeki yang kita miliki untuk miskin, dhuafa, yatim, dan kelompok lainnya yang membutuhkan uluran tangan kita. Tengoklah tetangga kita, apakah mereka tengah berbahagia atau tidak? Bukan berarti kita ingin tahu urusan orang lain, tetapi cobalah berempati dengan berbagi kegembiraan kepada mereka yang tidak memilikinya.

Bagi yang memiliki ilmu, salurkan pengetahuannya kepada mereka yang tidak berpengetahuan. Apapun dan seberapa pun bentuknya. Bukankah kita diperintahkan untuk menyampaikan pengetahun meski pun sedikit (ballighu anniy walau ayah)? Sebarkan pengetahun untuk menegakkan kebenaran di manapun atau melalui media manapun. Bersedekah tidak memiliki makna yang sempit. Apapun media dan bentuknya jika disalurkan untuk kebenaran karena Allah Azza wa Jalla, maka insya Allah pelakunya akan mendapat ganjaran yang setimpal.

Bagi yang tidak memiliki kecukupan harta atau ilmu, bantulah orang-orang di sekitar dengan pemikiran atau kekuatan fisik kita. Dari hal-hal yang sederhana saja, misalnya membersihkan lingkungan dari sampah dan kotoran yang akan mendatangkan penyakit atau berkontribusi aktif memberikan ide saat rapat RT untuk kebaikan di lingkungan kita. Intinya, segala potensi yang kita miliki adalah karunia Allah yang seyogianya dapat kita maksimalkan untuk beribadah kepada-Nya.

So, mari kita pupuk dan jaga semangat ibadah Ramadhan yang menggebu-gebu setiap saat. Allah Azza wa Jalla yang berada begitu dekat dengan kita, niscaya akan semakin dekat jika kita senantiasa mengisi setiap desah nafas dengan dzikir, menjadikan setiap pikir dan langkah kita bernilai ibadah kepada-Nya. Jika sudah demikian, niscaya tidak hanya nuansa Ramadhan yang kita rengkuh, melainkan rahmat Allah yang tidak terkira.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah r.a., Rasulullah Saw. bersabda: Allah Taala berfirman: Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku selalu bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku pun akan mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam suatu jemaah manusia, maka Aku pun akan mengingatnya dalam suatu kumpulan makhluk yang lebih baik dari mereka. Apabila dia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari, (Shahih Muslim No.4832).

Wallahu Alam bish Shawab.

Parung, Syawal 1433 H

Imam Fathurrohman


TAGS Ramadhan


-

Author

Follow Me