Sekelumit Kisah Tentang Susukanlebak

25 Sep 2012

e8e094bef3dc7545106614b1d3f4e007_tugu-desaDesa Susukanlebak merupakan sebuah wilayah yang terletak di sebelah timur Kabupaten Cirebon. Sebelum adanya pemekaran kecamatan, Susukanlebak termasuk sebagai salah satu desa yang berada di bawah Kecamatan Lemahabang. Namun, sejak terjadinya pemekaran sejumlah kecamatan di Kabupaten Cirebon, Susukanlebak didapuk menjadi salah satu kecamatan di Kabupaten Cirebon yang melingkupi beberapa desa di bagian selatan Kecamatan Lemahabang dan sejumlah desa di bagian barat Kecamatan Karang Sembung.

Sejatinya, sejak dulu Desa Susukanlebak sudah sangat dikenal masyarakat luar. Hal ini antara lain karena sejumlah prestasi yang ditorehkan Desa Susukanlebak dan masyarakatnya. Beberapa prestasi tersebut antara lain keberhasilan Desa Susukanlebak sebagai juara 1 lomba kebersihan desa se-Jawa Barat di tahun 1964. Akibat prestasi tersebut, Desa Susukanlebak sempat menjadi percontohan bagi desa-desa lainnya di seluruh Indonesia.

Bahkan, ketika desa-desa di sekitarnya masih gelap-gulita karena belum dialiri listrik, Susukanlebak telah dicap sebagai kota di tengah leuweung (kota di tengah hutan) karena terang-benderang listrik telah menjangkau rumah-rumah di wilayah itu. Kisah ini didapat penulis berdasarkan penuturan seorang sepuh warga Desa Pasawahan pada sekitar tahun 1995. Konon, listrik yang menerangi Desa Susukanlebak itu merupakan swadaya masyarakat yang memasang generator dengan memanfaatkan derasnya aliran Sungai Cimanis.

Selain cerita listrik, Susukanlebak juga dikenal keindahannya karena memiliki desain interior yang rapih dan indah. Kerapihan dan keindahan terlihat di sepanjang jalan utama Desa Susukanlebak yang memiliki pagar bercat putih. Keindahan lainnya adalah adanya air mancur di depan pendopo Balai Desa Susukanlebak. Air mancur ini merupakan pelengkap hiasan taman di samping tugu Apollo, Burung Garuda yang mencengkeram bola dunia, dan pohon beringin yang berdiri megah.

Berdasarkan penuturan Almarhum Eno Suwarna (kami menyebutnya Abah Eno, masyarakat memanggilnya Lulugu Eno) yang merupakan sesepuh dan perangkat desa, pembuatan air mancur dilakukan setelah melakukan survei ke sebuah daerah di Kuningan, Jawa Barat. Adapun pagar bercat putih sebagai simbol bersatunya visi masyarakat setempat untuk menjadikan Desa Susukanlebak sebagai wilayah yang mencintai kebersihan, keindahan, dan kerapihan.

Nama Susukanlebak sendiri tidak diketahui sejak kapan munculnya. Susukanlebak berasal dari dua kata dalam bahasa Sunda, yakni susukan dan lebak. Dari sisi etimologi, Susukanlebak bermakna sungai yang berada di dataran rendah. Makna ini akan sesuai jika disandingkan dengan nama sebuah desa di sebelahnya, Susukan Tonggoh yang kurang lebih bermakna sungai yang berada di dataran tinggi.

Berdasarkan penuturan tetua-tetua di kampung, boleh jadi, Susukanlebak sudah ada sejak pra Islam berkembang di Cirebon. Terlebih jika menyimak sejarah leluhur Desa Susukanlebak, yakni Buyut Silem yang satu jaman dengan sosok bernama Buyut Panipes atau yang lebih dikenal sebagai Buyut Curug Landung. Nama terakhir merupakan kuwu (kepala desa) pertama sekaligus pendiri Desa Curug yang berbatasan langsung dengan Desa Susukanlebak (sebelum terjadi pemekaran menjadi Susukanlebak dan Susukan Agung).

Konon, Panipes atau Buyut Curug Landung merupakan salah seorang priyayi yang memiliki darah biru dari Pajajaran. Perjalanan Buyut Curug Landung ke wilayah timur Tatar Pasundan ditengarai dalam rangka mencari area penghidupan bagi anak-cucunya kelak. Setelah berhasil menemukan tempat yang dirasakan cocok, Buyut Curug Landung menetap dan menamakan tempat tersebut sebagai Curug yang kurang lebih bermakna air yang mengalir ke bawah.

Tidak jauh dari Kampung Curug, tinggal seorang sepuh yang linuwih dan sederhana. Dialah Buyut Silem yang dikenal sebagai kuwu Susukanlebak. Sejatinya, Buyut Silem merupakan gelar. Sementara nama aslinya tidak (atau belum) diketahui. Seperti Buyut Curug Landung, nama buyut disematkan sebagai gelar bagi seorang kepala desa ketika itu. Adapun nama silem pun merupakan gelar yang ditahbiskan kepada pendiri Susukanlebak itu setelah memenangkan sebuah pertempuran dengan Buyut Curug Landung.

Pentahbisan Buyut Silem
Alkisah, saat Buyut Curug Landung mencari wilayah untuk ditempatinya, dia bertemu dengan Buyut Silem. Sudah lazim, tampaknya, leluhur di jaman baheula melakukan adu kadigdayaan untuk mendapatkan wilayah orang lain atau sekadar mengetahui siapa yang lebih sakti. Mungkin ini pula yang terjadi dalam kisah ini, di mana Buyut Curug Landung menantang Buyut Silem untuk beradu kesaktian.

Setelah ditentukan bahwa adu kesaktian dilakukan dengan beradu menyelam di dasar Sungai Cimanis, maka ditentukanlah syarat bagi pemenang. Yakni, siapa saja yang mampu bertahan paling lama di dasar Sungai Cimanis, maka dialah pemenangnya. Adapun taruhannya: saha nu eleh, meunangkeun taneuh sakepakan hayam! (siapa yang kalah hanya mendapatkan tanah satu kepakan sayap ayam). Artinya, siapapun yang kalah, wilayahnya harus rela diserahkan kepada sang pemenang. Adapun pihak yang kalah berhak atas hibah tanah dari sang pemenang.

Konon, disaksikan sejumlah warga, kedua buyut itu pun beradu kesaktian. Keduanya mulai neuleum (bahasa sunda bermakna menyelam) hingga menyentuh dasar Sungai Cimanis. Dengan olah kanuragan yang terlatih, keduanya mampu bertahan hingga berhari-hari tidak keluar dari dasar Sungai Cimanis. Sekadar untuk diketahui, Sungai Cimanis merupakan aliran air yang bermuara di Pantai Utara (Pantura) Jawa, dengan diameter yang cukup luas dan aliran air yang digunakan untuk mengairi sawah dan ladang.

Singkat cerita, setelah lama menahan nafas dan berendam di dasar Sungai Cimanis, tiba-tiba muncul tubuh Buyut Curug Landung di permukaan. Sesuai perjanjian, maka Buyut Curug Landung harus mengakui kekalahannya. Berdasarkan perjanjian itu pula Buyut Curug Landung harus rela hanya mendapatkan wilayah sakepakan hayam.

Tidak begitu jelas bagaimana proses eksekusi sakepakan hayam itu dilakukan, yang jelas Buyut Curug Landung akhirnya mendapatkan haknya sebagai pihak yang kalah. Yakni sebuah wilayah yang luasnya jauh lebih kecil dibandingkan wilayah yang dimiliki Buyut Silem. Namun, saat itu, konon Buyut Silem sempat berujar bahwa di masa yang akan datang keturunan Buyut Curug Landung justeru akan memakai tanah yang ada di wilayahnya untuk penghidupan keturunan Buyut Curug Landung. Buyut Silem pun rela dengan kondisi demikian, asalkan kehidupan bermasyarakat di dua desa tersebut berjalan damai, rukun, dan saling menghormati.

Kini, rekam jejak bukti ke-linuwih-an Buyut Silem dapat terlihat dari dua prasasti yang mengapit sekaligus penanda batas jalan antara Desa Curug dan Desa Susukan Agung. Adapun wilayah yang dimiliki Buyut Silem memanjang mulai batas Desa Susukan Agung (sebelum pemekaran, Desa Susukan Agung termasuk ke dalam wilayah Desa Susukanlebak) hingga di ujung kulon kampung Moncongos dan berbatasan dengan Desa Susukan Tonggoh di sebelah kaler (utara).

Saat ini, baik masyarakat Desa Curug maupun Desa Susukanlebak dan masyarakat di sekitarnya hidup berdampingan dengan sangat rukun. Sudah menjadi hal yang lazim pula jika di masyarakat terjadi pernikahan yang mempertemukan pengantin dari kedua belah pihak. Terlebih lagi masyarakat di kedua desa tersebut, seperti halnya desa-desa lainnya di Kecamatan Susukanlebak, sangat menjunjung tinggi ajaran Islam sebagai way of life dalam kehidupan sehari-hari.

Masjid Nurul Kalam
Selain kisah tentang Buyut Silem, Desa Susukanlebak memiliki sejarah unik lainnya yang diidentikkan dengan keberadaan Masjid Nurul Kalam. Masjid ini termasuk dituakan di wilayah Kecamatan Susukanlebak dan sekitarnya. Masyarakat yang sekadar ingin mengetahui masjid ini biasanya datang di Hari Jumat sekaligus menunaikan Shalat Jumat di situ. Bahkan, ada juga yang datang sambil membawa anaknya yang belum bisa berjalan untuk didoakan marbot masjid agar secepatnya bisa berjalan.

Namun sayang, karena keterbatasan akses informasi yang didapat penulis, kisah seputar Masjid Nurul Kalam tidak banyak diketahui. Hanya saja tersiar kabar dari cerita para tetua di desa ini bahwa Nurul Kalam adalah nama salah seorang waliyullah penyebar agama Islam di wilayah ini. Mbah Nurul Kalam, demikian ia biasa disapa masyarakat setempat, menyiarkan agama Islam bersama saudaranya Nurus Syam.

Tidak (atau belum) diketahui tahun keberadaan mereka berdua di wilayah ini dan dari mana mereka berasal. Namun diperkirakan keduanya hidup semasa pemerintahan Kesultanan Cirebon di bawah Sultan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Adapun jejak peninggalan Mbah Nurul Kalam, selain masjid adalah makam yang terletak di Blok Pahing Desa Susukanlebak. Hingga saat ini, makam tersebut terawat cukup baik dan kerap dikunjungi para peziarah dari berbagai daerah.

Tugu Appollo sebagai lambang bahwa masyarakat Susukanlebak berpikiran luas, cinta iptek, dan visioner

Tugu Appollo sebagai lambang bahwa masyarakat Susukanlebak berpikiran luas, cinta iptek, dan visioner

Tugu Garuda sebagai simbol nasionalisme.

Tugu Garuda sebagai simbol nasionalisme.

Kecamatan Susukanlebak
Sejak ditetapkan sebagai sebuah kecamatan, Desa Susukanlebak memisahkan diri dari Kecamatan Lemahabang. Dengan status barunya tersebut, maka Kecamatan Susukanlebak merupakan satu dari 40 kecamatan di Kabupaten Cirebon yang memiliki luas wilayah 2.788 Ha terdiri dari tanah darat 2.286 Ha, Tanah Sawah 502 Ha, dengan letak ketinggian dari permukaan laut 2000 m.

Wilayah Kecamatan Susukanlebak secara geografis memiliki posisi strategis, yaitu terletak pada 108 08 38 108 24 02BT dan 7 10 7 26 32 LS di bagian utara wilayah Kabupaten Cirebon, dan merupakan pintu masuk dari arah Bandung-Jakarta. Kedudukan dan jarak dari ibukota Propinsi Jawa Barat, Bandung, 105 km dan dari ibukota negara, Jakarta, 255 km melalui Tol Palimanan Kanci.

Secara struktural, Kecamatan Susukanlebak membawahi 13 Desa yaitu: Curug, Curug Wetan, Kaligawe, Kaligawe Wetan, Karangmangu, Susukanlebak, Susukan Agung, Susukan Tonggoh, Wilulang, Sampih, Pasawahan, Ciawi Asih, dan Ciawi Japura. Berdasarkan data yang diunduh dari http://dapil.dprd-cirebonkab.go.id/kecamatan-susukan-lebak, jumlah Kepala Keluarga (KK) yang tinggal di Kecamatan Susukanlebak adalah 11.115 dengan 18.678 orang penduduk laki-laki dan 18.332 orang penduduk perempuan.

Secara geografis, Kecamatan Susukanlebak berbatasan:
Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Karangsembung
Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Sedong
Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Lemahabang
Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Karangwareng

Kehidupan sehari-hari penduduk Kecamatan Susukanlebak tidak jauh berbeda dengan kecamatan lain yang berlatar belakang pedesaan. Aktivitas di bidang pertanian masih mendominasi sebagian besar penduduknya. Selain pertanian, di kecamatan ini juga terdapat industri pengerukan pasir seperti yang ada di Desa Kaligawe dan di Blok Dongkol Desa Asem yang berbatasan dengan Kecamatan Lemahabang. Pengguna hasil industri tersebut tersebar di wilayah Kabupaten Cirebon serta Kabupaten Kuningan. Selain itu terdapat pula pengrajin bata merah yang di antaranya terdapat di Desa Curug dan sebelah timur Desa Susukan Agung.

Dalam bidang seni dan budaya Kecamatan Susukanlebak memiliki banyak kelompok-kelompok pagelaran seni seperti organ tunggal, kesenian buroq, shalawatan, dan lain sebagainya. Tradisi keagamaan pun sangat terasa di wilayah ini. Puluhan pesantren salafiyah (tradisional) yang dihuni ribuan santri dari sejumlah daerah di Indonesia terdapat di beberapa desa, antara lain Pasawahan, Asem, dan Karangmangu.

Memiliki Tradisi Keagamaan yang Unik
Ghiroh keagamaan yang melekat kuat di masyarakat semakin terasa saat adanya peringatan hari-hari besar Islam. Selain aktifitas Ramadhan, Syawal, dan Rayagung (Idul Adha), sejumlah momen penting yang kerap diperingati adalah Maulid Nabi Muhammad Saw di bulan Rabiul Awwal dan munculnya penganan cimplo di bulan Shafar. Cimplo merupakan penganan khas nan unik yang terbuat dari tepung terigu dengan proses pembuatan layaknya serabi. Masyarakat di Kecamatan Susukanlebak umumnya mencocol cimplo ke dalam kuah khas berasal dari gula aren dan parutan kelapa.

Cimplo menjadi unik dan khas karena jenis kuliner ini hanya dapat ditemui setahun sekali di bulan Shafar. Cimplo digunakan sebagai simbol untuk membuang bala yang konon banyak diturunkan Tuhan pada bulan tersebut. Tradisi membuang bala ini mengalami puncaknya pada hari Rabu terakhir di Bulan Shafar, yang dikenal dengan istilah Rebo Wakasan.

Boleh jadi, tradisi Rebo Wakasan itu berdasarkan pemahaman para kyai terhadap Kitab Kanzun Najah was Suruur fil Adiyah allati Tasyrahush Shuduur karangan Syaikh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Quds yang katanya pernah mengajar di Masjidil Haram Makkah Al-Mukarramah. Konon, disebutkan dalam kitab itu bahwa pada hari itu (Rebo Wakasan) akan turun 320.000 bala, musibah, ataupun bencana. Sehingga dikatakan bahwa hari itu merupakan hari yang paling berat sepanjang tahun.

Ketika Rebo Wakasan ini biasanya masyarakat membawa air dan berkumpul di tajug (mushalla) untuk membacakan doa-doa tertentu. Tradisi Rebo Wakasan biasa dilakukan antara Maghrib dan Isya. Adapun air yang telah dibacakan doa-doa dari jamaah yang hadir kemudian dibawa pulang untuk diminum masing-masing jamaah dan keluarganya.

Wallahu Alam bish Shawab.

Parung, 25 September 2012

Oleh:


TAGS Susukanlebak


-

Author

Follow Me