Des
26
Ini Dia Nenek Favoritku
Desember 26, 2012 | Tagged renungan |
Saya paling senang bertemu dengan nenek-nenek. Nggak cuma nenek-nenek, bertemu dengan kakek-kakek juga selalu membuat senang hati. Berpapasan, bertegur sapa, atau mengobrol dengan para manula tampaknya menjadi hobi terpendam saya. Melalui mereka saya berkaca tentang masa depan saya. Melalui mereka pula angan-angan saya sering melambung menelusuri masa silam, mengira-ngira seperti apa mereka dahulu.
Dan yang menjadi favorit saya adalah sosok nenek di komplek yang saya temui kemarin sore. Saya belum pernah mengobrol dengannya. Tapi untuk sekadar bertegur sapa, sudah tak berbilang saya lakukan dengan nenek cantik itu.
Senyumnya khas, penuh ketulusan. Matanya bening seperti mata bayi dengan keriput yang menghiasi bagian sekitar kelopak matanya. Raut mukanya selalu berseri seolah tiada beban yang menggelayuti hidupnya. Langkah kakinya pun ringan, bukan karena ia tidak gemuk, tapi memang jauh dari kesan ringkih seorang manula.
Sore kemarin, kami kembali bertemu. Tepatnya berpapasan. Di tengah gemericik hujan yang mulai mereda, saya menyapanya saat ia berjalan dengan payung di genggaman. Saya yang mengendari motor dengan pelan menyapanya terlebih dulu. Si nenek yang saya sapa membalasnya dengan senyuman dan membungkuk penuh kesederhanaan.
Inilah yang membuatnya menjadi nenek favorit versi saya. Selain senyumnya yang khas penuh ketulusan, ia selalu membungkuk tanda hormat. Saya yakin sikap ini ia tampakkan kepada siapa pun yang berpapasan dengannya, termasuk saya yang usianya mungkin tidak ada separuh usianya.
Pernah saya amati, saat istri saya mengobrol dengannya, si nenek selalu menampakkan sikap sederhana dengan bahasa Jawa “tingkat tinggi”. Isteri saya yang Wong Yogya memang kerap mengobrol menggunakan bahasa ibunya. Untuk menambah keakraban, begitu alasan istri saya.
Si nenek, saat mengobrol pun kerap memainkan ibu jari sebagai bahasa isyarat untuk memperkuat informasi yang disampaikannya atau memang sudah latah dari sononya. Dan buat saya, bahasa Jawa “tingkat tinggi” dan permainan jempolnya itu meninggalkan kesan mendalam. Seolah saya berada di pusaran jaman Majapahit atau lebih jadul dari itu.
Setiap bertemu atau berhadapan dengan si nenek, saya selalu merasa rendah diri, minder, atau kalah kelas. Saya merasa tidak ada apa-apanya dibandingkan dirinya. Sudah setua itu, si Nenek masih tegar menggunakan “unggah-ungguh” yang adiluhung. Inilah sikap asli budaya Jawa yang sekarang ditinggalkan generasi saat ini.
Jangankan menggunakan bahasa Jawa tingkat tinggi, sekadar membungkuk tanda hormat pun belum pernah saya temukan lagi pada generasi masyarakat Jawa saat ini. Saya justeru menemukan budaya lain yang sudah mendarah daging dalam diri mereka. Budaya hip-hop yang mereka dapatkan dari hingar-bingar mal dan pesta-pesta.
Oke, mungkin saya berlebihan membuat hipotesa ini. Saya tinggal di sebuah komplek di pinggiran kota metropolitan. Saya hidup di tengah komunitas dengan ragam perbedaan. Saya berada di pusaran masyarakat urban yang tak lagi menjadikan “ungguh-ungguh” sebagai patokan.
Biarlah. Mungkin jaman memang harus berputar. Pun demikian dengan local wisdom yang terus tergerus jaman. Saya pun tak yakin senyum dan sikap adiluhung si Nenek menginspirasi dan diikuti generasi sekarang.
Saya cuma berharap, semoga si Nenek diberikan kesehatan dan berumur panjang agar senyumnya tak lekas tersimpan sebagai kenangan.
Parung, 26 Desember 2012
Foto: KOMPAS
Comments
2 Comments so far

















Suka banget sama postingan ini.
Thanks ya, Mbak. Moga gak kapok berkunjung ke “gubuk” saya…