Empat Keistimewaan Rasulullah Saw.

5 Mar 2013

8bc3a69f02641936c1805bc730a1a14a_khat-muhammadSemua nabi dan rasul yang diutus Allah Swt. memiliki beragam keistimewaan dan mukjizat. Nabiyullah Isa As. misalnya, mampu menyembuhkan orang sakit, Nabiyullah Ibrahim As. dapat selamat dari kobaran api, Nabiyullah Musa As. mampu membelah lautan, Nabiyullah Sulaiman As. dapat berbicara dengan hewan. Demikian halnya dengan para nabi lainnya yang mendapatkan keistimewaan atas perkenankan Allah Azza wa Jalla.

Begitu juga dengan Baginda Rasulullah Saw. yang menjadi nabi akhir jaman. Beliau mendapat keistimewaan yang luar biasa dibanding para nabi pendahulunya. Selain Al-Quran yang menjadi mukjizat terbesarnya, Nabi Muhammad Saw. memiliki banyak keistimewaan, seperti beliau diutus untuk seluruh umat manusia. Hal ini tentu saja berbeda dengan para nabi dan rasul lainnya yang hanya diutus untuk sekelompok umatnya saja.

Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya hanya akan menengahkan empat keistimewaan Nabi Muhammad Saw. dari sekian banyak keistimewaan beliau. Adapun empat keistimewaan yang dimaksud adalah:

1. Telah dikenal sejak dahulu
Salah satu keistimewaan Nabi Muhammad Saw. dibanding para nabi sebelumnya adalah nama beliau sudah terkenal sejak lama. Sebelum beliau lahir, orang-orang sudah mengenal dan ramai membicarakannya. Bahkan para nabi pun berikrar terhadap kedatangan Nabi Muhammad Saw. Ini tercantum dalam QS. Ali Imran ayat 81:

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”.

Berita kedatangan Nabi Muhammad Saw. diketahui orang-orang melalui kitab-kitab terdahulu. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt:

(yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan yang mengharamkan segala yang buruk bagi mereka, dan membebaskan beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang beruntung, (QS. Al-Araaf [7]: 157)

Dan (ingatlah) ketika ‘Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata,” (QS. Ash-Shaaff [61]: 6)

Begitu juga, konon beliau telah termaktub dalam Veda, kitab umat Hindu. Adalah Prof. Waid Barkash, seorang professor bahasa dari Alahabad University India dalam salah satu buku terakhirnya berjudul Kalky Autar (Petunjuk Yang Maha Agung) memuat sebuah pernyataan yang sangat mengagetkan kalangan intelektual Hindu.

Secara terbuka dan dengan alasan-alasan ilmiah, ia mengajak para penganut Hindu untuk segera memeluk agama Islam dan sekaligus mengimani risalah yang dibawa oleh Rasulullah Saw., karena menurutnya, sebenarnya Nabi Muhammad Saw. adalah sosok yang dinanti-nantikan sebagai sosok pembaharu spiritual yang di dalam Wedha dikenal sebagai Kalhy Autar.

2. Allah memanggil Rasulullah dengan panggilan istimewa
Dalam QS. Al-Insyirah ayat 4, Allah Swt. meninggikan nama Nabi Muhammad Saw. dibanding nabi-nabi lainnya. Dari 25 nabi yang disebut dalam Al-Quran, beberapa nabi diseru namanya oleh Allah Swt. Namun, ada perbedaan yang sangat menonjol saat nama para nabi diseru dengan panggilan Allah Swt. kepada Nabi Muhammad Saw.

Dalam sejumlah ayat Al-Quran, Allah Swt. memanggil para nabi dengan namanya saja. Berbeda dengan nama Nabi Muhammad yang dipanggil selalu disertai dengan gelar kehormatannya antara lain Ya Sin, Thaa Haa, Ya Nabi, Ya Rasul, dan lain sebagainya.

Bahkan, Allah Swt. melarang hamba-Nya menyebut Nabi Muhammad Saw. secara sembarangan. Hal ini termaktub dalam firman-Nya: “Janganlah kalian memanggil Rasul (Muhammad) seperti kalian memanggil sesama orang di antara kalian,” (QS.An-Nur [24]: 63).

3. Kehadiran Beliau sudah dipersiapkan
Biasanya, setiap manusia berkembang kedewasaannya mengikuti tiga hal, yakni lingkungan keluarga (mendapat bimbingan kedua orangtua), lingkungan sekolah, dan lingkungan di luar itu. Berbeda dengan Rasulullah Saw. yang tidak mengikuti tiga kebiasaan tadi.

Saat Rasulullah Saw. berusia 6 bulan di dalam kandungan, beliau sudah ditinggal sang ayah, Abdullah bin Abdul Muthallib. Pada saat usia beliau empat tahun, sang ibu Aminah pun berpulang. Dua peristiwa ini menegaskan bahwa Rasulullah Saw. memang tidak mendapat bimbingan dari kedua orangtuanya. Lalu bagaimana beliau mendapat bimbingan dalam kehidupannya?

Mengenai hal ini, Rasulullah Saw. bersabda: Addabani Rabbi fa ahsana tadibi (saya dididik oleh Tuhanku dengan sebaik-baiknya didikan). Ternyata guru yang mendidik Rasulullah Saw. adalah Allah Swt. Saat lingkungan suku Quraisy ditingkahi rusaknya moral, Rasulullah Saw. kerap uzlah di Gua Hira. Di sinilah Rasulullah Saw. mendapatkan kematangan pemikiran dengan mendapatkan bimbingan dari Allah Swt. melalui perantara Malaikat Jibril.

Keistimewaan beliau lainnya adalah saat kelahiran Nabi Muhammad Saw., di mana Aminah ditemani Asiah dan Maryam. Keduanya merupakan sosok yang berkontribusi langsung dalam pendidikan Nabiyullah Musa As. dan Nabiyullah Isa As. Kehadiran keduanya memberikan gambaran jika proses kehadiran Rasulullah Saw. di dunia ini mendapat perhatian dari orang-orang yang berpengalaman membimbing para nabi.

4. Diizinkan Memberi Syafaat
Berbeda dengan para nabi lainnya, kelak di Hari Perhitungan, Rasulullah Saw. akan diperkenankan Allah Swt. untuk memberikan syafaat. Tentang hal ini, Rasulullah Saw. telah menegaskannyya melalui Abu Hurairah ra.:

Dihidangkan untuk Rasulullah Saw. masakan daging, lalu dipilihkan untuk beliau daging paha bagian depan, yang merupakan kesukaan beliau. Beliaupun menggigitnya lalu bersabda: Aku adalah pemimpin manusia pada hari kiamat. Tahukah kalian, mengapa? Allah akan mengumpulkan seluruh umat manusia dari yang pertama hingga yang terakhir di suatu tempat, di mana seorang penyeru akan mampu memperdengarkan (seruan) kepada mereka semuanya. Pandangan mata akan mampu menembus mereka semuanya, sedangkan matahari dekat sekali. Maka kesedihan dan kesusahan meliputi mereka, sampai mereka tidak mampu menanggung dan merasakannya.

Maka orang-orang berkata: Tidakkah kalian saksikan apa yang menimpa kalian? Tidakkah kalian tahu siapa yang mampu memberikan syafaat kepada kalian di hadapan Rabb kalian? Sebagian mereka lalu berkata kepada sebagian yang lain: Kalian harus datang kepada Adam As. Namun Adam As. mengajukan alasan.

Kemudian mereka menemui Nuh As., namun dia juga mengajukan alasan. Kemudian mereka menemui Ibrahim As., namun dia mengajukan alasan pula. Kemudian mereka menemui Musa As., ternyata dia juga mengajukan alasan. Kemudian mereka menemui Isa As., namun dia juga mengajukan alasannya.

Akhirnya mereka menemui Nabi Muhammad Saw. dan mengatakan: Wahai Muhammad, engkau adalah utusan Allah dan penutup para nabi. allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu maupun yang akan datang. Maka berikanlah syafaat kepada kami di hadapan Rabbmu. Tidakkah engkau lihat keadaan kami?

Maka akupun berangkat sampai di bawah Arsy, lalu aku tersungkur sujud kepada Rabb-ku. Kemudian Allah membukakan untukku pujian-pujian dan sanjungan yang baik untuk-Nya, yang belum Dia bukakan kepada seorangpun sebelumku. Kemudian dikatakan (kepadaku): Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, dan mintalah, niscaya kamu akan diberi. Berilah syafaat niscara akan diterima (syafaatmu). Maka akupun mengangkat kepalaku kemudian aku katakan: Umatku wahai Rabb-ku, umatku wahai Rabb-ku.

Dalam hadits yang lain, dari Abu Hurairah ra beliau menuturkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda: Setiap Nabi alaihissalam memiliki doa yang mustajab, maka setiap nabi telah menggunakan doa tersebut. Dan aku menyimpannya sebagai syafaat bagi ummatku, kelak di hari kiamat. Maka, syafaat tersebut Insya Allah akan didapati oleh setiap orang dari umatku yang wafat dalam keadaan tidak menyekutukan Allah taala dengan suatu apapun. (HR. Bukhari dan Muslim).

Untuk mendapatkan syafaat beliau, Rasulullah Saw. di antaranya memberikan bocoran:

Barangsiapa yang berdoa setelah mendengar adzan: Ya Allah, Rabb yang memiliki panggilan yang sempurna dan shalat yang akan ditegakkan ini, karuniakanlah kepada Muhammad al-wasilah dan keutamaan, serta bangkitkanlah baginya kedudukan yang terpuji yang Engkau telah janjikan untuknya, niscaya dia akan mendapatkan syafaatku pada hari kiamat (dengan izin-Nya). (HR. Al-Bukhari no. 579, Kitabul Adzan, Bab Ad-Dua inda an-nida, dari Jabir bin Abdillah)

Demikian empat keisitimewaan Rasulullah Saw. yang merupakan bagian sangat kecil dari keistimewaan beliau yang sangat banyak. Semoga kita dapat meneladani akhlak beliau dan mendapatkan syafaatnya di hari yang telah ditentukan. Wallahu Alam bish Shawab.


TAGS Tentang Muhammad Saw


-

Author

Follow Me