Sudahkah Anda Bahagia?

5 Mar 2013

288a606dfd07cd73daa14da6f82e5245_tree-of-happinessSalah satu doa yang paling sering kita baca adalah doa Sapu Jagad. Doa yang disarikan dari QS. Al-Baqarah ayat 201 itu adalah: Robbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hassanah wa qina adzaabannar (Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan akhirat serta peliharalah kami dari siksa neraka). Disebut sapu Jagad, karena doa ini mencakup tujuan hidup setiap manusia, yakni memohon kebahagiaan dunia dan akhirat.

Begitupun dengan kita, melalui doa ini kita berharap Allah Azza wa Jalla berkenan melimpahkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Namun, doa hanyalah bentuk ratapan kita di hadapan-Nya. Selain berdoa, tentu saja kita diwajibkan untuk berusaha meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Di sinilah kita ditantang untuk membuktikan keseriusan ratapan kita tersebut.

Permohonan kita untuk meraih kebahagiaan harus diperjuangkan. Dibutuhkan kesungguhan (jihad) dalam mengimplementasikan setiap doa yang dipanjatkan. Diperlukan aksi yang mengarahkan kita untuk memantapkan sebuah keinginan. Berdoa tidaklah sekadar menengadahkan tangan sambil berucap segala keinginan, lalu berdiam diri menunggu keajaiban datang.

Intisari kebahagiaan yang terkandung di dalam doa Sapu Jagad, sejatinya, terdiri dari empat kategori. Sebagai hamba yang dibekali potensi untuk memantapkan sebuah pilihan dan menjalankannya, kita dipersilakan untuk memilih kategori kebahagiaan yang kita butuhkan.

Pertama, Saidun fid Dunya wa Syaqiyyun fil Akhirah (bahagia di dunia namun sengsara di akhirat). Pelaku kategori ini adalah kaum hedonis yang mengisi kehidupannya dengan mengedepankan hawa nafsu belaka. Mereka tak takut berbuat maksiat, korupsi, berbohong, menindas orang lain, melakukan kecurangan, minum-minuman keras, mengedarkan atau mengkonsumsi narkoba, dan lain sebagainya. Termasuk pada kategori ini juga para pejabat yang mempersulit urusan orang lain untuk kesenangan pribadi, pelaku pungutan liar (pungli), dan mereka yang menggunakan kekuasaannya dengan semena-mena.

Dalam kelompok yang lebih sempit, termasuk di dalamnya adalah para suami/istri yang menyakiti pasangannya, para orangtua yang asyik mengejar kesenangannya padahal ia tak pantas menjadi contoh bagi anak-anaknya, atau seorang anak yang tak menghormati orangtuanya karena ia asyik mengejar kebahagiaan hidupnya.

Kedua, Syaqiyyun fid Dunya wa Saidun fil Akhirah (sengsara di dunia namun bahagia di akhirat). Kelompok yang masuk dalam kategori ini adalah orang-orang yang hidupnya miskin harta, sering tertimpa musibah, sepanjang hidupnya lebih sering sakit, memiliki keluarga (suami/istri, anak, kakak, adik, dll) yang kerap merepotkan, dan lain sebagainya. Namun di balik semua kesulitan hidup itu, mereka justru bersabar dan ikhlas menerima segalanya.

Inilah kelompok orang-orang yang bersabar atas segala ketentuan Allah Azza wa Jalla. Atas kesabarannya, Allah menjanjikan ganjaran yang tidak terhingga. Firman Allah: Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, (QS. An-Nahl [16]: 96).

Ketiga, Syaqiyyun fid Dunya wa Syaqiyyun fil Akhirah (sengsara di dunia dan di akhirat). Inilah kategori yang paling rendah. Al-Quran menyebutnya sebagai orang-orang yang merugi. Kategori ini diisi oleh mereka yang miskin dalam keimanannya, sombong pula dalam kemiskinan duniawinya, bahkan sombong dalam segala kekurangannya dan sombong dalam segala kesengsaraannya.

Dalam kesempitan hidupnya, mereka melupakan Allah. Tak sedikitpun doa mereka panjatkan untuk memohon belas-kasih Allah Azza wa Jalla. Mereka juga tak sudi menengok pada sekelilingnya. Bahkan mereka menjadikan Allah sebagai bahan olok-olok dan menuding-Nya sebagai biang kerok atas kesengsaraan yang mereka alami. Naudzubillah min dzalik!

Dan kategori yang keempat adalah Saidun fid Dunya wa Saidun fil Akhirah (Bahagia di dunia dan di akhirat). Inilah kategori yang selalu kita mohonkan dalam doa Sapu Jagad. Di sinilah kelompok orang-orang yang selalu menyandarkan segala urusannya kepada Allah Azza wa Jalla. Kelompok ini senantiasa mengoptimalkan segala potensi yang dimilikinya untuk mencapai kebahagiaan berdasarkan niat untuk menghamba kepada-Nya.

Empat Unsur Mencapai Bahagia
Setiap manusia memiliki potensi agar ia terhindar dari kategori orang-orang yang merugi. Melalui Al-Quran, Allah Swt. memberikan petunjuk agar manusia berada pada kelompok Saidun fid Dunya wa Saidun fil Akhirah, yaitu kelompok orang-orang yang mendapat keberuntungan di dunia dan di akhirat. Ada empat unsur yang harus dipenuhi agar kita masuk ke dalam kelompok tersebut. Allah Swt. menjabarkannya dalam QS. Al-Ashr.

Pertama, Allah Swt. menjanjikan bagi siapapun yang memiliki keimanan yang mantap akan terhindar dari kerugian di dunia dan di akhirat. Inilah landasan bagi orang-orang yang ingin meraih kesuksesan dan kebahagiaan. Dengan keimanan yang dimilikinya, setiap orang tidak hanya akan memuliakan Allah Swt., tetapi juga menghormati setiap makhluk-Nya. Ia akan tampil dengan kepribadian agung yang disukai dan dihormati sesamanya.

Unsur yang kedua adalah berbuat kebaikan (amal saleh). Orang yang beriman akan mudah tergerak hatinya untuk melakukan kebaikan karena amal saleh merupakan manisfestasi dari iman yang terpancar dari jiwa seseorang. Amal saleh merupakan buah dari iman. Keimanan yang dimilikinya senantiasa menjadi pengendali gerak perbuatan seseorang sesuai dengan aturan main yang ditetapkan oleh Allah Swt.

Ketiga adalah saling menasihati dalam kebenaran. Jika unsur pertama dan kedua berlaku untuk dilaksanakan oleh individu, maka unsur yang ketiga mengajarkan kepada setiap orang agar saling mengingatkan dan berpesan antar sesamanya dalam kebenaran. Unsur ketiga ini penting dalam membangun relasi sosial. Jika seseorang mampu mengaktifkan unsur ini, maka ia akan dikelilingi pancaran kebahagiaan yang datang dari beragam penjuru; tidak hanya dari dalam dirinya melainkan dari setiap orang yang dikasihinya. Dengan cara ini pula akan terealisasi persatuan dan kesatuan serta semangat ukhuwah Islamiyah yang dilandasi oleh kebenaran.

Ketiga unsur di atas harus berjalan secara konsisten dan terjaga kualitasnya agar kebahagiaan terus diraih. Ini memang tidak mudah. Dibutuhkan unsur keempat, yakni kesabaran. Dalam kenyataannya, banyak sekali ganjalan dan kendala menuju hidup sukses; baik yang berasal dari internal maupun yang datang dari eksternal. Apakah kendala itu berkait dengan masalah pribadi, atau berhubungan dengan problema masyarakat. Semua itu akan bisa dipecahkan jika dihadapi dengan penuh kesabaran dan ketabahan.

Sejatinya, keberhasilan dan kegagalan seseorang itu sesungguhnya sangat bergantung pada kegigihan, kedisiplinan dan kekuatan karakternya, yang didukung rahmat, karunia dan petunjuk Allah Swt. Ketika semua ikhtiar telah dilakukan dengan maksimal, maka kita boleh berharap bahwa Allah Azza wa Jalla mengabulkan harapan kita untuk sukses di dunia dan di akhirat. Allah Azza wa Jalla berfirman, Dan bahwa seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, (QS. An-Najm: 39).

Wallahu Alam bish Shawab.


TAGS


-

Author

Follow Me