Terlambat Sahur Gara-Gara Alarm

1 Aug 2013

1a59cf80bb7b6ef5a3576c8ae049118f_tsaqiva-zfTulisan ini dibuat untuk mengisi kolom Ramadhan Anak yang dilansir Harian Umum Republika di rubrik Khazanah Ramadhan. Dan, alhamdulillah.. setelah dikirim pada 22 Juli 2013, tulisan ini dimuat pada Ahad, 28 Juli 2013. Memang sih ada editan dari redaksi, mungkin mengingat space yang terbatas. Tapi, tetap saja saya bersyukur Alhamdulillah, semoga tulisan ini menjadi motivasi Dede Qiva dan kami sekeluarga untuk makin rajin beribadah dan berkarya. :)

Berikut tulisan lengkapnya, sebelum diedit sang redaktur:

Hari kedua Ramadhan tahun ini menjadi peristiwa yang tak akan kulupakan. Bukan hanya aku seorang, melainkan juga ayah, bunda, dan kakak kembarku Qiya. Gara-garanya adalah alarm. Lho, kenapa bisa begitu?

O, iya. Perkenalkan dulu, namaku Tsaqiva Zahrotul Firdausy dan biasa dipanggil Qiva oleh teman-temanku. Aku terlahir kembar bersama kakakku, Taqiya Fairuz Zakiyya yang biasa aku panggil Teteh Qiya. Menurut bunda, aku danTeteh Qiya dilahirkan melalui proses operasi caesar. Jarak aku dan teteh hanya dua menit saja. Konon, aku diangkat dari rahim bunda lebih dahulu sebelum teteh. Tapi, entah kenapa ya, kok aku yang jadi adik?

Ah, biarlah, menurutku sih tidak terlalu penting siapa yang lebih dahulu. Begitu juga kata bunda, karena yang terpenting adalah saling mengasihi, menyayangi, dan menghormati antarsaudara. Bukankah begitu?

Kami berdua mempunyai adik yang lucu, centil, gemesin, tapi juga suka bikin ulah. Namanya Ghania Dhiyaun Nun Bilba atau yang sering kami panggil Ade Nun. Umurnya baru 3 tahun di bulan Mei lalu. Dari sekian banyak aksinya, Ade Nun paling lucu kalau sedang centil. Seringnya, jilbab bunda dipakai dan bibirnya merah belang-bentong. Haha, rupanya Ade Nun pakai lipstick bunda. Lucu sekali.

Eh, jadi lupa ceritanya. Kembali ke laptop!

Kebiasaan bundaku adalah menyetel alarm di handphone sebelum tidur. Tujuannya tentu saja agar bunda bisa bangun tepat waktu dan menyiapkan santapan sahur untuk kami sekeluarga. Masakan bundaku enak-enak lho.. Malah kata si bungsu Ade Nun, masakan bunda itu maknyuss, hihi..

Tapi malam itu rencana bunda buyar berantakan. Alarm di handphone yang disetel sebelum tidur, ternyata tidak berbunyi. Alhasil, teman-teman bisa menebaknya. Kami sekeluarga terlelap dan telat bangun untuk makan sahur.

Ya, kami telat bangun. Karena kami bangun sepuluh menit menjelang adzan Subuh. Itupun setelah ayah membangunkan kami. Dengan mata yang masih setengah terpejam, Aku segera bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka. Kami semua panik. Terutama bunda yang kebingungan harus berbuat apa.

Untungnya masih ada gorengan sisa buka puasa tadi. Ayah menyuruhku dan teteh untuk segera melahapnya. Tapi, baru habis setengahnya, ayah meminta kami untuk segera berhenti karena beberapa menit lagi waktu adzan Subuh dikumandangkan. Ayah meminta kami segera minum air putih yang banyak agar siang nanti kami tidak kehausan.

Pagi itu bunda terus bertanya, siapa yang telah mengubah setelan alarm di handphone. Aku dan teteh menggelengkan kepala. Tapi, tiba-tiba ayah membuat pengakuan. Menurut ayah, seingatnya ayah tadi malam bangun dan membuka handphone bunda untuk sekilas melihat-lihat berita online. Ayah pun tidak tahu, apakah itu yang menjadi penyebabnya? Karena boleh jadi tangan ayah menyentuh tanda alarm dan otomatis mengubah setelannya.

Ah, ayah… pikirku. Gara-gara alarm tidak berbunyi, kami semua tidak sahur. Eh, sebenarnya yang pantas disalahkan itu alarm atau ayah, ya? Hehe..

Biarlah, peristiwa ini jadi pengalaman berharga buat kami. Hari itu, meski tidak bersantap sahur seperti biasanya, aku dan teteh tetap berpuasa sampai maghrib. Kini, bunda tak hanya menyetel satu alarm di handphone. Sebab dua handphone ayah pun disetel alarm agar kejadian serupa tidak terjadi lagi. []

b19d6dedf618b6b515c8192a4a0f519a_bangun-terlambat-gara-gara-alarm
Nama : Tsaqiva Zahrotul Firdausy
TTL : Jakarta, 9 Juni 2005 (Usia 8 tahun)
Status : Siswa Kelas 3A SDIT Dinamika Umat Bogor


TAGS renungan


-

Author

Follow Me