Curug Cibolang: 7 Air Terjun Yang Melegenda

21 Oct 2013

e979b8514d9dc06244edc858846f0b68_curug-cibolang-1Mengagumi keindahan alam di Tatar Sunda memang tak akan ada habisnya. Geografi alam tatar Sunda yang kaya akan hutan dan dikelilingi pegunungan, aliran sungai, ladang dan pesawahan selalu membuat kita berdecak kagum. Termasuk Curug Cibolang yang mampu menyedot perhatian banyak orang karena keindahan, manfaat, dan legendanya.

Alam dan masyarakat tatar Sunda ibarat dua sisi mata uang yang saling terkait. Masyarakat Sunda sangat akrab dengan alam sekitarnya secara turun temurun. Kekayaan dan kesuburan tanahnya, bukan saja tempat menggantungkan mata pencaharian penduduknya, tetapi juga turut membentuk tradisi pola hidupnya untuk pemanfaatan kekayaan alam. Ada keterikatan yang sangat kuat antara masyarakat Sunda dan alam di sekitarnya, sehingga urang Sunda dituntut untuk dapat melestarikan alam.

Salah satu keindahan alam di wilayah tatar Sunda adalah Curug Cibolang atau dikenal juga sebagai Curug Tujuh. Sesuai dengan namanya curug ini mempunyai 7 buah air terjun (curug) yang tersebar dan tidak berjauhan letaknya. Bahkan curug 4 dan 5 letaknya berdampingan hanya terpisah kurang lebih 2 meter jaraknya, sehingga dengan demikian untuk dapat menikmati keindahan dan keasrian ketujuh air terjun tersebut, adalah dengan cara mengitari bukit, menapaki jalan setapak mulai dari kaki ke puncak bukit dan kembali lagi.

Setiap curug ini memiliki nama yaitu, Curug Satu, Curug Dua, Curug Tiga, Curug Cibolang, Curug Cimantaja, Curug Cileutik dan Curug Cibuluh. Ketujuh curug ini mengalirkan air ke sungai Cibolang dan Cimantaja.

Curug ini berada di dalam Kawasan Wana Wisata Curug Tujuh di RPH Panjalu BKPH Ciamis KPH Ciamis, dengan luas sekitar 40 ha yang dikelilingi Bukit Ciparang dan Cibolang di kaki Gunung Sawal. Kawasan ini terletak pada ketinggian antara 800-900 m dpl dengan suhu udara berkisar 17-18C.

Tak surut saat kemarau
Menuju kawasan Curug Cibolang tidaklah sulit. Obyek wisata yang secara administratif berada di Kampung Nanggela, Desa Sandingtaman, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, ini hanya berjarak kurang lebih 35 km arah utara Kota Ciamis atau 5 km dari Kecamatan Panjalu. Wana wisata ini dapat dicapai dari arah barat dari Kecamatan Panjalu atau Kota Bandung melalui Malangbong, Ciawi dan Rajapolah.

Sedangkan dari arah timur Kabupaten Ciamis melalui kecamatan Kawali. Kondisi jalan pada umumnya beraspal dan dapat dilalui kendaraan roda empat dan roda dua baik kendaraan umum atau pribadi. Bagi Anda yang naik kendaraan umum, Anda dapat naik dari Terminal Ciamis jurusan Kawali Panjalu, atau langsung dari Bandung jurusan Ciamis via Panjalu. Kendaraan umum hanya mencapai jalan raya utama. Untuk menuju pintu gerbang kawasan curug, perjalanan diteruskan dengan menggunakan ojek.

Setelah sampai di Desa Sandingtaman akan dijumpai plang menuju arah curug ini, letaknya di sebelah kanan jika dari arah Panjalu. Masuk ke Kampung Cipicung Desa Sandingtaman perjalanan diteruskan menuju Kampung Nenggala hingga pintu gerbang kawasan Curug Cibolang. Jarak menuju pintu ini sekitar 20 menit atau kurang lebih 10 km dari jalan raya utama. Kondisi jalan menuju kawasan ini beraspal dan cukup baik, akan tetapi berliku-liku dan menanjak.

Setelah membeli karcis dan masuk pintu di pintu gerbang langsung akan ditemui jalan setapak berbatu yang menanjak dengan bentuk tangga. Kemiringan jalan ini mencapai hampir 45 derajat. Di ujung tangga ini akan ditemui percaangan jalan dengan papan petunjuk lokasi curug Cibolang berada. Untuk curug satu hingga lima ke arah kanan sedangkan curug enam dan tujuh ke arah kiri.

Curug Satu merupakan air terjun yang paling besar dengan ketinggian hampir mencapai 120 meter dengan lebar sekitar 15-20 meter dan di sisi kirinya terdapat tebing datar. Sementara lokasi Curug Dua berada di bawahnya. Konon di salah satu curug ini airnya memiliki khasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit kulit karena air terjun yang mengalir berasal dari kawah Gunung Sawal diketahui mengandung belerang.

Lokasi Curug Tiga, Curug Cibolang, dan Curug Cimantaja agak sejajar. Curug Cibolang mempunyai ketinggian sekitar 30-50 meter dengan lebar kira-kira 5 m. Adapun Curug Cimantaja, terletak di bawah Curug Cibolang. Disebut Curug Cimantaja karena konon berasal dari kata Cimata Raja atau air mata raja.

Curug Cileutik dan Curug Cibuluh memiliki ketinggian tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 30 m saja. Namun kondisi jalan menuju ke arah dua air terjun ini sangat licin dan cukup berbahaya. Sangat disarankan untuk tidak ke area ini bila kurang berpengalaman. Di Curug Cibuluh terdapat kolam kecil berukuran 3 m berbentuk setengah lingkaran dengan airnya berwarna kehijauan.

Tidak jauh dari Curug Cileutik dan Curug Cibuluh terdapat lokasi wisata berupa Batu Kereta Api. Disebut demikian karena memang bentuk batunya yang besar-besar seperti gerbong kereta dan berjejer ke belakang sebanyak 12 buah.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, jika dibandingkan dengan kebanyakan air terjun lain pada umumnya, Curug Cibolang ini memiliki sejumlah kelebihan. Selain air terjun ini tidak pernah surut sekalipun di musim kemarau, air yang mengalir pun mengandung unsur belerang yang berkhasiat untuk penyembuhan beberapa penyakit.

Area Curug Cibolang juga terbuka untuk aktivitas perkemahan. Bumi perkemahan seluas kurang lebih 2 hektare terhampar dengan fasilitas areal api unggun. Adapun jenis fasilitas lainnya yang tersedia di area Curug Cibolang ini antara lain loket karcis, papan petunjuk, pos jaga, tempat parkir, MCK, bangku, pusat informasi, tempat sampah, jalan setapak, mushola, dan shelter.

Legenda Curug Cibolang
Buah Cinta Seorang Pemimpin Untuk Rakyatnya

f10d5fda0832e593198fb78e529078e0_curug-cibolang-2Keberadaan Curug Cibolang tidak lepas dari sebuah legenda tentang kecintaan seorang pemimpin kepada rakyatnya. Alkisah di sebuah kerajaan hidup seorang raja bijaksana yang sangat mencintai rakyatnya. Dari hari ke hari ia selalu memikirkan kesejahteraan rakyatnya. Hingga suatu ketika, sang raja bersedih karena musim kemarau tak kunjung usai.

Sebagai seorang pemimpin ia sangat sedih melihat penderitaan rakyatnya di musim kemarau tersebut. Betapa tidak, penghidupan rakyat yang berasa dari bercocok tanam di sawah dan ladang, seringkali gagal akibat minimnya pengairan karena telah cukup lama hujan tidak turun. Sementara banyak pula rakyatnya yang menderita kelaparan dan diserang beragam penyakit.

Kecintaannya pada rakyat membuatnya bersedih hati. Sang raja bertapa untuk memohon kepada Tuhan supaya diturunkan hujan agar keadaan negerinya pulih seperti sedia kala. Namun usahanya itu tidak mendapat jawaban dari Sang Penguasa Alam. Musim kemarau masih saja berlangsung, sementara rakyat semakin banyak yang sengsara.

Karena beragam usaha, baik lahir maupun batin tetap saja tidak membuahkan hasil, maka hati sang raja pun semakin sedih. Dalam kesedihannya itu sang raja menangis. Saat air mata sang raja berurai, sebuah keajaiban pun terjadi. Air mata raja yang terus turun perlahan-lahan berubah menjadi genangan air jernih dan semakin membesar sehingga membentuk aliran air yang akhirnya terpecah dan jatuh di tujuh buah tebing.

Itulah cikal bakal terjadinya Curug Cibolang yang memiliki tujuh air terjun. Berkat air curug yang mengalir tersebut keadaan negara pun kembali seperti semula. Perlahan kesejahteraan rakyat semakin baik, hasil pertanian semakin meningkat, dan penderitaan rakyat karena beragam penyakit pun sirna. []

Tulisan ini pernah dimuat di Duta Rimba edisi Juli - Agustus 2013


TAGS Keliling-Keliling


-

Author

Follow Me