Pindang Gombyang Bikin Lidah Bergoyang

21 Oct 2013

df595b4fb9394d0d086e15ec0b556851_pindang-gombyangKawasan Pantura kerap menawarkan cerita indah. Tak terkecuali soal kuliner yang selalu mampu menggugah selera. Dari sekian banyak varian kuliner khas Pantura, Pindang Gombyang menjadi menu yang wajib dicicipi. Keunikan cita rasa dan kesegaran masakan khas Indramayu ini memang pantas disebut juara.

*****

Bau khas angin laut langsung tercium saat saya dan tim liputan DUTA RIMBA menginjakkan kaki di rumah makan Panorama. Letak rumah makan yang terkenal dengan menu Pindang Gombyang ini memang cukup dekat dengan laut. Dengan jarak kurang dari 700 meter dari pantai, aroma laut memang sangat terasa.

Bagi masyarakat setempat, Pindang Gombyang bukanlah menu istimewa. Sebab Pindang Gombyang merupakan masakan tradisional yang kerap dinikmati masyarakat Indramayu. Bahkan kini, di sejumlah rumah makan, Pindang Gombyang kerap hadir menghiasi daftar menu.

Meski demikian, ada yang berbeda dengan Pindang Gombyang ala Rumah Makan Panorama. Di rumah makan milik Warto ini Pindang Gombyang memiliki citra rasa unik sehingga diminati banyak kalangan. Tak heran jika rumah makan yang baru dibangun pada tahun 2009 ini berkembang begitu pesat.

Letak yang cukup jauh dari pusat kota, rupanya tak membuat rumah makan ini sepi pelanggan. Bahkan, para pemburu kuliner banyak yang sengaja datang untuk menikmati masakan berkuah bening ini. Malah sebagian besar pelanggan datang berkelompok karena umumnya mereka berasal dari satu kantor, seperti Perhutani, Pertamina, Polres Indramayu, dan lain sebagainya.

Perpaduan asam, gurih, dan pedas
Ditelisik dari namanya saja, Pindang Gombyang terbilang unik. Pindang Gombyang berasal dari kata pindang yang berarti penganan berbahan dasar ikan yang digarami dan dibumbui kemudian diasapi atau direbus sampai kering. Sementara Gombyang, menurut Warto, bermakna kuah yang banyak seperti bergelombang.

Ikan yang dijadikan bahan dasar pembuatan Pindang Gombyang umumnya dari jenis ikan manyung atau ikan jambal roti. Bagi penggemar masakan Sunda, tentu tidak asing dengan ikan jambal roti, karena jenis ikan ini biasa tersedia dalam paket Nasi Timbel dan disantap bersama sayur asam, sambal, dan lalapan.

Hanya saja untuk Pindang Gombyang, ikan manyung atau jambal roti ini diambil bagian kepalanya saja. Menyantap satu porsi Pindang Gombyang saja, perut Anda dijamin kenyang. Karena satu porsi Pindang Gombyang berisi sebagian kepala ikan manyung yang besarnya hampir sama dengan betis orang dewasa.

Untuk mendapatkan cita rasa juara, Warto meracik Pindang Gombyang dengan berbagai rempah-rempah seperti kunyit, jahe, lengkuas, kemiri, bawang merah dan bawang putih serta sejumlah bumbu rahasia. Sebagai penghilang bau amis, digunakan belimbing wuluh, sehingga rasanya menjadi asam dan pedas.

Untuk rasa pedas tergantung selera. Konsumen bisa memesan pedas atau tidak, kata Warto.

Dalam sehari Warto bisa menghabiskan 100 kepala ikan manyung untuk 200 porsi Pindang Gombyang atau satu kuintal dalam ukuran berat. Harganya pun variatif, mulai dari Rp. 20.000,- untuk prosi kecil dan Rp. 25.000,- untuk porsi besar. Jika dihitung-hitung, omset perbulan rumah makan Panorama menembus angka 150 juta rupiah. Tentu angka yang fantastis untuk sebuah rumah makan yang letaknya jauh dari pusat keramaian.

Meski Pindang Gombyang identik dengan ikan manyung, namun Warto melakukan inovasi dengan menawarkan menu Pindang Gombyang berbahan baku selain ikan manyung. Jenis ikan lain yang ditawarkan adalah kakap merah, kerapu, atau bawal.

Daging ikan manyung lebih kenyal dari jenis ikan lainnya. Tapi, itu terserah selera konsumen. Karena banyak juga yang menyukai Pindang Gombyang berbahan baku kakap merah, bawal, atau kerapu, papar Warto.

Inovasi ini merupakan jurus lain yang dibuat Warto agar pengunjung rumah makan miliknya tak hanya dari penikmat ikan manyung. Dan memang jika dibandingkan rumah makan lain yang menyediakan menu Pindang Gombyang, rumah makan Panorama milik Warto cukup terkenal. Ini terlihat dari pajangan foto sejumlah public figure, baik pejabat pemerintahan maupun artis, yang mampir untuk mencicipi Pindang Gombyang.

Bahkan rumah makan yang buka sejak pukul 09.00 hingga 22.00 ini pun telah diliput banyak media massa, baik cetak, online maupun broadcast. Mendapat promosi seperti itu, tentu saja membuat rumah makan Panorama makin terkenal. Tak heran jika rumah makan di Jl. Tambak Raya, Indramayu, ini sering mendapat kunjungan yang sengaja datang dari Jakarta dan sekitarnya.

Daya tarik rumah makan Panorama itu tidak hanya dari menunya saja. Desain interior berupa bilik-bilik bambu yang berdiri di atas tambak menjadi pesona lain. Terlebih lagi jika berkunjung ketika sore hari, seperti yang dilakukan DUTA RIMBA saat itu. Sambil lesehan di lantai bilik bambu dan menyantap Pindang Gombyang, mata kita pun dapat menikmati indahnya sunset, menyaksikan bulatan matahari yang memerah saga.

Ini dia resepnya!!

Anda yang tidak sempat berkunjung ke Indramayu atau yang ingin membuat Pndang Gombyang di rumah, dapat mencoba resep berikut ini:

Bahan:
Kepala ikan Manyung
1,5 butir kelapa
cabe merah
bawang merah
bawang putih
daun salam
jahe
sereh
laos (lengkuas)
kunyit
temu kunci
6 atau 7 butir kemiri
asam muda
garam
gula pasir

Cara Membuat:
Kemiri dan sebagian kunyit di ulek. Bumbu-bumbu lain diiris tipis-tipis campurkan, lalu ditumis. Buatlah santan kental dan encer. Godoklah santan encer dengan bumbu yang telah ditumis tadi. Kalau sudah mulai mendidih, masukan asam muda. Apabila sudah mulai empuk, angkatlah dari godokan tadi lalu ditumbuk dan diambil airnya. Masukkan air asam tersebut ke dalam godokan tadi, tambahkan santan kentalnya. Cicipilah, rasanya harus asam.

Agar empuk, ikan manyung direbus selama 1 jam. Setelah dibersihkan sisik dan kotorannya, kepala ikan manyung kembali direbus selama 1 jam di dalam godokan bumbu yang telah disiapkan.

Alamat Rumah Makan Panorama
Jl. Tambak Raya Indramayu
Telp. (0234) 7006559
Hp. 08122376642, 08782888992

Tulisan saya ini pernah dimuat Majalah DUta Rimba edisi Mei-Juni 2013.


TAGS Kuliner


-

Author

Follow Me