Jumat Unik Ala Sri Martani

30 Jun 2014

b298bb20dcb6b7734efd0e18451a28b9_masjid-jugaJumat, 23 Mei 2014. Tidak seperti shalat Jumat yang sering saya ikuti, kali ini, shalat Jumat di Kampung Wungu, Desa Sri Martani, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, memberikan warna yang sangat unik. Seremonial shalat Jumat, boleh jadi, tak akan ditemukan di lain tempat. Masyarakat setempat memberikan corak pada shalat Jumat yang sarat akan local wisdom. Intinya, shalat Jumat kali ini begitu mengesankan.

Masjid Al-Ikhsan berdiri tidak terlalu gagah. Terdiri atas dua ruangan yang dipisahkan sebuah dinding dengan ornamen bolong-bolong. Ornamen yang dimaksud adalah sejenis konblok kotak kecil yang tengahnya bolong. Konblok-konblok itu kemudian dipasang beraturan sebagai dinding. Fungsinya adalah agar jamaah Muslimat dapat melihat gerakan imam shalat ketika berjamaah.

Masjid itu berbalut dinding putih kecut. Tampak sebagian dinding menganga, menampilkan sisa-sisa semen yang menempel di antara bata-bata merah. Sebagian sisa remah-remah dinding berceceran menandakan payahnya adonan semen dan pasir. Di sisi dinding yang lain, beberapa terlihat retakan memanjang. Konon, retakan memanjang itu diakibatkan gempa bumi yang sempat menggoyang Bantul dan sekitarnya pada tahun 2007 silam. Masjid berukuran sekira 4 x 6 meter itu makin terlihat rapuh jika melihat kayu-kayu yang mulai kosong karena isinya disantap rayap.

Saat saya masuk ke dalam masjid, suasana masih sepi. Hanya ada beberapa bapak tua yang duduk di atas klasa lusuh yang memanjang dari kanan ke kiri. Sebagian klasa ditutupi beberapa sajadah yang rata-rata berperawakan compang-camping. Ada satu sajadah yang tampak lebih baik kondisinya. Pastinya itu adalah milik Sang Imam masjid. Di sampingnya terdapat sebuah mihrab yang tak kalah lusuh. Beberapa sodetan kayu sebagai ukiran tampak menghitam, sementara kondisi kayu itu pun terkesan sudah sangat tua usianya.

Selepas menunaikan Shalat Tahiyyatul Masjid, saya kembali perhatikan jamaah di sekeliling. Beberapa bagian sudah terisi, bahkan mulai memenuhi ruangan. Tapi tetap saja yang mendominasi adalah bapak-bapak tua. Anak muda? Hanya ada 5 atau 6 saja. Tidak ada anak-anak. Namun, jika melihat di sisi ruangan yang lain, ternyata shalat Jumat juga diikuti jamaah perempuan. Sekilas terlihat beberapa nenek mengisi ruangan tersebut. Memang tidak banyak. Paling sekitar 4-8 orang saja.

Tidak seperti Shalat Jumat di masjid-masjid lain, seremonial Shalat Jumat tidak diawali pegumuman dari pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM). Tidak ada pengumuman kredit, debet, atau saldo kas masjid. Tidak ada juga pengumuman undangan pengajian di lain tempat. Bahkan, tidak ada juga pengumuman siapa Imam dan Khatib yang bertugas.

Seremonial Shalat Jumat di Masjid Al-Ikhsan membuat decak kagum saya. Tiga bapak tua berdiri beriringan. Tangan kiri sama-sama mendekap perut, sementara telapak tangan kanan mereka menutupi telinga kanan. Tanpa aba-aba, mereka mengumandangkan adzan bersamaan. Subhanallah!

Ketiga bapak tua melantunkan adzan dengan langgam yang sama. Seperti sebuah orkestra, tak ada satupun suara yang sumbang. Ketiganya melantunkan adzan dengan lentingan senada. Begitu pula ketika melandai, suara ketiganya ibarat pesawat yang landing di pacuan laju Bandara Soekarno Hatta. Mulus berbarengan. Laksana tengah membaca sebuah tulisan, suara ketiganya berayun ketika sampai pada koma dan berhenti pada titik yang sama.

Bagi saya yang lahir hingga besar di Cirebon, adzan berjamaah pada saat Shalat Jumat itu mengingatkan pada tradisi Shalat Jumat di Masjid Agung Cipta Rasa, Keraton Kasepuhan. Bedanya, jika adzan di Masjid Al-Ikhsan dikumandangkan oleh tiga orang bersamaan, adzan di Masjid Agung Cipta Rasa dikumandangkan oleh tujuh orang, pun berbarengan. Masyarakat Cirebon menyebutnya sebagai ‘Adzan Pitu’. Itulah tradisi yang konon dicontohkan para Waliyullah.

Perihal adzan yang dikumandangkan tiga bapak tua itu, saya mencoba menggali keterangan asal-usulnya. Menurut bapak mertua saya, sejatinya, tradisi awal adzan ketika Shalat Jumat di kampungnya itu dikumandangkan oleh tujuh orang secara bersamaan. Persis seperti yang dilakukan di Masjid Agung Cipta Rasa, Keraton Kasepuhan Cirebon. Hanya saja, makin lama jumlah muadzin di kampungnya terus berkurang. Para muadzin yang rata-rata usianya sudah sepuh itu satu persatu meninggal. Hingga tinggal menyisakan tiga orang. Sementara di sisi lain, tidak ada generasi muda yang mau menjadi muadzin.

Alasan lainnya, menurut bapak mertua saya, adalah hilangnya generasi muda Kampung Wungu. Tak banyak anak-anak muda tinggal di kampung itu. Mereka lebih memilih hengkang ke ibukota atau ke luar Jawa untuk mencari sumber penghidupan, dibandingkan tinggal di kampung itu untuk berkutat menjadi petani atau peternak sapi.

Miris hati saya mendengar itu. Sebuah kekayaan alam yang bersumber dari tradisi luhur akan hilang. Atau mungkin bisa dikatakan telah hilang. Kelak, tak ada lagi generasi muda di kampung itu yang tahu adanya tradisi unik tersebut. Apalagi untuk menggali local wisdom masyarakat setempat. Alasannya jelas. Generasi saat ini lebih senang jika mampu mengonsumsi budaya instan yang notabene datang bersamaan dengan gadget yang dipegang dan benda-benda elektronik yang dipandang.[]


TAGS Keliling-Keliling renungan


-

Author

Follow Me