Gadis Cantik dan Rok Mini

2 Jul 2014

66d14d96ace71dcce508ba606cf75484_cewek-cantik-alamiSebuah sore di Jl. Fatmawati Raya, pukul 16.30. Ini kisah tentang seorang gadis cantik penumpang metromini jurusan Blok M-Pondok Labu. Jika melihatnya, saya kira setiap lelaki pasti sepakat dengan saya bahwa ia memang cukup cantik. Usianya kira-kira tak lebih dari 20 tahunan. Rambut panjang hitamnya digelung sedikit dengan tali pengikat rambut berwarna pink. Baju merahnya dengan kancing atas sedikit terbuka bersanding indah dengan rok mini denim berwarna biru sedikit menghitam. Tas kecil hitam yang di gendongnya menambah aura memikat gadis itu. Melihat tampilannya, ia mungkin seorang mahasiswi atau sales promotion girl.

Bau tubuhnya wangi. Itu jelas tercium karena ia duduk persis di depan saya, bersebelahan dengan seorang kakek yang duduk di metromini sejak dari Blok M. Jangan lagi tanya tentang lehernya yang langsat dengan sedikit bulu-bulu tipis. Jika dipenteun, bolehlah saya kasih ia nilai 9 dari 10 nilai maksimal. Sudah cantik, tinggi semampai, modis, wangi pula. Untuk sesaat saya agak sibuk memperhatikannya. Mata lelaki saya cukup iseng memperhatikan sejenak makhluk Tuhan nan cantik ini.

Namun tak lama gadis itu duduk, tiba-tiba saya mendengar percakapan antara si gadis dan kakek yang duduk di sebelahnya.

Alhamdulillah, tidak terlalu macet. Baru pulang kerja, Nak?” tanya si kakek.

“Ooh, tidak. Saya mau berangkat kuliah, Kek,” jawab si gadis sambil tersenyum sopan.

Mendengar hal itu si kakek mengangguk. Tapi tak sampai semenit, ia pun bertanya kembali.

“Mau permen, Nak?” si kakek terlihat menawarkan dua buah permen, yang satu masih terbungkus sementara satunya lagi sudah terbuka.

“Terima kasih, Kek,” ujar si gadis sambil tangannya meraih sebuah permen yang masih terbungkus rapi.

Lho, kenapa kamu ambil permen yang masih terbungkus rapi? Bukankah ada permen yang sudah dibuka bungkusnya?” tanya si kakek.

“Mohon maaf, Kek. Saya lebih memilih permen yang masih terbungkus, soalnya saya khawatir jika permen yang bungkusnya terbuka itu banyak kotorannya,” jawab si gadis.

“Ooh begitu,” si kakek tersenyum.

“Yaah, begitulah juga hakikatnya dengan perempuan, Nak,” imbuh si kakek. “setiap lelaki yang baik, pasti lebih memilih perempuan yang baik pula untuk diperistrinya. Memang, umumnya lelaki lebih tertarik memandang perempuan yang pakaiannya terbuka dibandingkan perempuan yang pakaiannya sopan tertutup. Setiap lelaki pasti ingin memilikinya karena perempuan itu berpenampilan menarik dan mampu membangkitkan syahwatnya. Tapi percayalah, Nak. Setiap lelaki yang baik, nuraninya lebih memilih perempuan dengan pakaian sopan tertutup. Apa pasal? Si lelaki khawatir jika perempuan dengan pakaian terbuka itu jangan-jangan sudah dipenuhi oleh kotoran, jangan-jangan sudah banyak tangan lelaki yang menjamahnya. Hanya lelaki dengan cara pandang, pikiran, dan prilaku yang cenderung tidak baik saja yang mau mengambilnya sebagai pendamping hidup. Lelaki yang baik hanya akan memilih perempuan yang baik. Demikian pula sebaliknya.”

Si gadis termenung mendengarkan. Tampaknya, meski benar-benar tersindir, namun di dalam hatinya si gadis membenarkan apa yang di katakan kakek itu.

“Mohon maaf lho, Nak. Kamu itu cantik, masih sangat muda. Siapapun lelaki yang melihatmu pasti tertarik. Tanpa berpakaian terbuka seperti ini pun kamu tetap terlihat cantik, karena kamu memang memiliki kecantikan yang alami. Tapi, bukankah kamu juga kelak ingin memiliki suami yang baik luar-dalam? Suami yang setia, tak selingkuh, dan memiliki kepribadian mulia? Jika iya, mulailah dari dirimu sendiri. Mulailah dari cara berpakaian yang sopan dan tak mengundang mata nakal para lelaki. Insya Allah, kakek doakan supaya kamu mendapatkan lelaki pilihan yang baik, sayang sama kamu dan anak-anakmu kelak.”

Terus memberikan nasihat kepada si gadis, wajah si kakek terlihat begitu tenang dengan sorot mata yang menyejukkan dan bibir yang selalu tersenyum. Sementara si gadis masih termenung dengan mata yang menatap wajah si kakek.

Tepat saat metromini berhenti di perempatan jalan Fatmawati, si kakek bersiap untuk turun.

“Nah, sekarang kakek pamit. Mohon maaf jika perkataan kakek tidak membuatmu berkenan,” ujar si kakek sambil berdiri.

Tiba-tiba tangan si kakek dipegang oleh si gadis. Dengan wajah sumringah, si gadis menatap lekat pada wajah lelaki tua di hadapannya.

“Terima kasih, kakek. Saya sungguh berterima kasih atas nasihatnya. Insya Allah saya akan segera berubah. Mohon doanya dan terima kasih banyak.”

Si kakek mengangguk. Ia segera turun dengan bibir yang terus tersenyum.[]

Malam ke-5 Ramadhan 1435 H


TAGS renungan gaya hidup


-

Author

Follow Me