Belajar Kepada Padi

7 Jul 2014

d3f5e1e5bccf9c3a960b833574200a5f_padiPara orangtua kita sering memberikan nasihat, contohlah tanaman padi yang semakin berisi semakin merunduk. Nasihat atau petuah orangtua tersebut dipahami banyak orang sebagai rumus agar kita memiliki sikap tawadlu. Sebuah sikap dan perilaku yang sangat dianjurkan untuk menangkis sikap dan perilaku takabbur.

Sekadar memperkaya catatan kita, padi yang dalam bahasa latinnya adalah Oryza sativa L. merupakan salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban. Produksi padi dunia menempati urutan ketiga dari semua serealia, setelah jagung dan gandum. Namun demikian, padi merupakan sumber karbohidrat utama bagi mayoritas penduduk dunia.

Mungkin sudah beratus-ratus tahun lamanya tanaman padi menjadi contoh klasik yang selalu diberikan para leluhur sehingga sampai kepada kita. Dan jika diperhatikan lebih dalam, sejatinya, kita akan menemukan banyak penjelasan lain mengapa kita mesti mencontoh padi. Nah, dalam kesempatan ini mari kita coba memetakan hal-hal apa saja yang menjadi sifat utama padi, sehingga kita dapat mengambil hikmah di dalamnya.

1. Kian Berisi Kian Merunduk
Merunduknya padi merupakan analogi sikap rendah hati yang menyikapi segala sesuatu dengan kepasrahan diri kepada Allah Azza wa Jalla. Saat dirinya berlimpah kesenangan dan kenikmatan, maka ia akan bersyukur dan mengatakan bahwa itu semua merupakan keutamaan yang datangnya dari Allah Azza wa Jalla (haadza min fadhli robbi). Sebaliknya, ketika ia ditimpa beragam masalah, maka ia akan berpasrah diri dengan bersabar dan mengucapkan bahwa semua kejadian berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya (inna lillahi wa inna ilaihi rojiun). Semua itu ia sikapi dengan rendah hati tanpa ada sikap sombong dan merendahkan orang lain.

Tawadlu adalah sikap rendah hati, tidak sombong, serta tidak memandang orang lain lebih rendah dibandingkan dirinya. Orang tawadlu selalu meletakkan hatinya berdasarkan kecintaan kepada Allah Azza wa Jalla, sehingga tidak ada kesempatan baginya untuk merendahkan orang lain. Ia sadar betul jika dirinya merendahkan orang lain, maka sejatinya ia telah merendahkan Allah Azza wa Jalla yang telah menciptakan orang yang direndahkannya itu.

Rendah hati berbeda dengan rendah diri. Karena kerendahan hati menunjukkan sikap tawadlu, sementara rendah diri bersifat negatif yang menunjukkan kelemahan jiwa seseorang. Sosok rendah hati tidak akan mau diinjak-injak orang lain, meski ia sendiri akan selalu menghormati siapapun. Ia akan bereaksi positif terhadap orang-orang yang menginjak-injaknya tanpa sekalipun merendahkannya. Namun orang yang rendah diri tidak akan mampu bangkit dan terus terpuruk saat ia diinjak-injak orang lain.

Salah satu ciri orang tawadlu adalah ia selalu bersikap rendah hati di hadapan orang lain dan mendoakan kebaikan bagi orang-orang yang merendahkannya. Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan,” (QS. Al-Furqan [25]: 63).

Seseorang yang memiliki sikap tawadlu akan tampil sebagai sosok yang dimuliakan Allah dan dimuliakan pula oleh orang-orang di sekelilingnya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw. bersabda: “Tiada berkurang harta karena sedekah, dan Allah tiada menambah pada seseorang yang memaafkan melainkan kemuliaan. Dan tiada seseorang yang bertawadlu kepada Allah, melainkan dimuliakan (mendapat izzah) oleh Allah,” (HR. Muslim).

2. Memberi Manfaat
Sebagian besar masyarakat Indonesia menjadikan padi sebagai salah satu tanaman utama. Padi adalah bahan makanan pokok yang dikonsumsi orang setelah diolah menjadi beragam makanan, seperti nasi, bubur, lontong, ketupat, dan lain sebagainya. Padi merupakan tanaman yang mampu mengenyangkan orang lapar dan memberi tenaga bagi orang-orang untuk dapat beribadah dan beraktivitas lainnya.

Begitulah sifat padi yang semestinya ditiru oleh kita. Seperti padi, kita semestinya menjadi orang yang berguna bagi banyak orang. Ini pula yang diajarkan Rasulullah Saw. dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim: “khairunnas anfauhum linnas,” sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat banyak terhadap manusia lainnya.

Sebagai makhluk individu dan sosial, maka manusia terbaik merupakan sosok yang bermanfaat bagi orang lain dan tentu saja dirinya sendiri. Inilah manusia yang ideal dalam berkontribusi mengamalkan kemanfaatan ilmu, fisik, maupun mentalnya. Sejatinya, kita memang harus peduli terhadap diri sendiri, karena diri kita sendirilah yang memahami apa yang menjadi kebutuhan pribadi. Namun di sisi lain, kita pun tidak boleh egois, melainkan mesti menempatkan diri sebagai orang yang mau dan mampu bermanfaat bagi orang lain.

Bukankah sebagai makhluk sosial kita diperintahkan Allah Azza wa Jalla untuk saling menolong dalam kebaikan? Kita simak potongan firman-Nya dalam QS. Al-Maidah [5] ayat 2: “…dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”.

Prinsip tolong menolong di dalam Islam yang dibenarkan adalah taawanu alal birri wat taqwa, yakni tolong menolong dalam rangka berbuat kebajikan dan takwa. Sebaliknya, tolong menolong yang dilarang adalah taawanu alal itsmi wal ‘udwan, yakni tolong menolong dalam rangka berbuat dosa dan permusuhan.

Tolong menolong dalam kebaikan beragam bentuknya, antara lain menularkan ilmu kepada orang lain, membantu orang-orang yang kesusahan, bergotong-royong membersihkan lingkungan, mengajak orang-orang untuk shalat berjamaah, membantu orang sakit, dan lain sebagainya. Orang-orang yang bermanfaat seperti ini akan dicintai banyak manusia karena kepeduliannya terhadap sekitar dan bisa membawa pengaruh yang baik. Perilaku kesehariannya lebih banyak diisi oleh kebaikan, ucapannya senantiasa didengar, menjadi inspirator, dan lebih banyak berbuat daripada berbicara.

3. Pintar Beradaptasi
Kita beruntung hidup di negeri gemah ripah loh jinawi, negeri yang sangat subur tanahnya. Seperti sebuah bait syair lagu yang dinyanyikan Koed Ploes bahwa di tanah ini tongkat kayu dan batu pun bisa jadi tanaman. Begitu pula halnya dengan padi yang bisa hidup di berbagai kondisi tanah di negeri ini. Tanaman padi bisa hidup di mana saja, di sawah, ladang, rawa, atau perbukitan.

Ketika padi tumbuh di sawah, tentu saja kondisinya lebih baik, karena pengairan relatif mudah didapat. Namun di daerah yang airnya sulit, seperti di ladang atau perbukitan, mau tidak mau padi harus bisa beradaptasi dengan lingkungannya. Untuk daerah yang sulit ini, padi hanya bisa ditanam saat musim hujan saja, itu pun tidak dengan air yang menggenang.

Ada juga jenis padi rawa atau padi pasang surut yang tumbuh liar atau dibudidayakan di daerah rawa-rawa. Selain di Kalimantan, padi tipe ini ditemukan di lembah Sungai Gangga. Padi rawa mampu membentuk batang yang panjang sehingga dapat mengikuti perubahan kedalaman air yang ekstrem musiman.

Intinya, tanaman padi mengajarkan kepada kita untuk mampu beradaptasi di manapun kita berada. Terlebih kita merupakan makhluk berakal yang semestinya dapat menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungannya. Padi mengajarkan kita untuk mampu menahan gempuran cobaan, tahan banting, meski ditempatkan di daerah yang tidak mengenakkan sekalipun. Bahkan di tengah kesulitan seperti itu, kita diajarkan padi untuk memberikan manfaat bagi orang-orang sekitarnya.

4. Selalu Dicari dan Ditunggu-tunggu
Karena fungsinya yang menyentuh kebutuhan dasar, maka padi sangat dicari orang dan ditunggu-tunggu kehadirannya. Saat kita lapar, apalagi setelah beraktifitas seperti olahraga dan bekerja, umumnya yang dicari adalah nasi yang merupakan makanan mengenyangkan yang berbahan dasar beras dan berasal dari padi.

Padi mengajarkan kepada kita untuk menjadi pribadi yang selalu dicari dan ditunggu-tunggu kehadirannya. Tentu saja bukan pada hal-hal negatif. Manusia yang suka menolong orang, gemar memberikan solusi kepada orang lain, dan memiliki karakter yang disenangi orang lain menjadi sosok yang selalu dicari, dicintai, dan ditunggu kehadirannya. Keberadaannya selalu membuat damai hati orang lain.

Inilah inti dari Islam yang menjadi rahmatan lil alamin. Sosok muslim sejati selalu menjadi rahmat bagi orang-orang di sekelilingnya sehingga dicari dan ditunggu kehadirannya. Kita dapat melihat hal tersebut pada pribadi Rasululah Saw. yang selalu dicintai dan disegani kawan maupun lawannya. Rasulullah Saw. merupakan panutan sejati bagi kita untuk memaknai rahmatan lil alamin. Hal ini ditegaskan Allah Azza wa Jalla dalam firman-Nya: “Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia,” (QS. Al-Anbiya: 107).

Sungguh mulia orang-orang yang memiliki sifat padi dan bisa mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dirinya selalu dicari dan ditunggu-tunggu kehadirannya karena memiliki ke-tawadlu-an, rajin memberikan manfaat kepada orang-orang di sekitarnya, dan mampu bersosialisasi dalam keadaan apapun. Semoga kita termasuk orang-orang yang Allah limpahkan kemuliaan hidup dengan memiliki sifat dan karakter seperti padi sehingga menjadi pribadi yang rahmatan lilalamin.

Wallahu Alam bish Shawab.


Tulisan saya ini pernah dimuat di buletin jumat BAITUL ‘ATIQ Edisi 14/Th. 1/Dzul Qadah 1434 H


TAGS renungan gaya hidup


-

Author

Follow Me