Aku dan Hewan Peliharaan Imajinasiku

13 Dec 2014

bb7fd34a38e9de7efc88272fb95eb21b_buraqPernah kumerenung betapa serunya jika aku memiliki hewan peliharaan. Namun seringkali pula aku berpikir, alangkah sedihnya jika hewan peliharaanku itu harus sakit lalu mati karena kecerobohanku. Bukankah itu sama saja aku telah membunuh salah satu makhluk ciptaan Allah?

Lalu, seringkali pula aku berkhayal dalam pikir imajinasiku untuk tetap memiliki hewan yang begitu dekat dan menjadi sahabat dalam keseharianku. Aku sebut itu hewan sahabat terbaik dalam hidupku. Ia akan menemaniku dalam setiap kesempatan, baik ketika aku sedih maupun gembira. Baik ketika aku tertawa maupun menangis. Ia bisa berada di manapun aku terdiam, berjalan, berlari, maupun ketika aku terlelap.

Jika hewan itu ada, Aku ingin memilih Buraq sebagai hewan sahabat terbaikku. Kenapa Buraq? Bukankah itu hewan yang menjadi kendaraan Rasulullah ketika Isra dan Miraj bersama Jibril melintasi malam menembus kegelapan, mengepakkan sayapnya, melesat cepat sejak Masjidil Haram lalu ke Masjidil Aqsa hingga ke Sidratul Muntaha memenuhi undangan Sang Maha Pencipta?

“Kring..kring..” Suara bel pertanda usai waktu makan siang.

“Azizah,” panggil Rasyda. Suara itu membuat aku terkejut dari renunganku.

“I..iya, ada apa?” tanyaku.

“Kamu mengapa melamun? Ini kan sudah bel masuk!” kata Rasyda mengingatkanku.

“Ooh, iya. Maaf,” jawabku.

“Kamu kok tidak makan?” tanyanya kembali.

“Ya sudah, kita ke kelas saja,” jawabku sembari pergi meninggalkan Rasyda.

“Hey, Azizah. Tunggu aku!” teriak Hafidza. “Hari ini Azizah aneh sekali,” batinnya.

Usai pelajaran sekolah, aku pulang bersama Rasyda, Hafidza, dan Shabira. Sesampainya di rumah, aku ditegur oleh Bik Dira. “Lho, Neng.. kok makanannya tidak dimakan?” tanyanya.

“Maaf, Bik. Tadi aku melamun,” jawabku.

“Ya sudah, Neng. Sekarang dihabiskan makanannya ya..,” nasihat Bik Dira.

Segera aku melahap makanan yang tidak aku makan di sekolah tadi. Setelah makan, aku pergi ke lapangan untuk bergabung bersama teman-temanku. Aku pergi dengan menaiki sepeda.

“Assalamu’alaikum, teman-teman!” sapaku.

“Wa’alaikumussalam,” jawab mereka kompak.

“Kamu kok lama sekali sih datangnya?” tanya Ridho.

“Maaf, tadi aku disuruh Bik Dira makan dulu,” jawabku.

“Bukannya kamu tadi sudah makan di sekolah? Kenapa makan lagi?” tanya Hafidza.

“Karena aku..”

“Karena Azizah tidak memakan makanannya,” Rasyda memotong.

“Kok tidak dimakan?” tanya Shabira.

“Karena aku melamun,” jawabku.

“Aduh, kok melamun sih? Kan jadi tidak dimakan makanannya. Mendingan makanannya tadi untuk aku saja,” kata Reyhan sambil tersenyum.

“Ya sudah, kita main saja, yuk,” kataku mengalihkan pembicaraan.

“Ayo!” jawab semua.

Akhirnya kami pun bermain bersama. Kali ini kami bermain mengelilingi Lapangan Enci dengan sepeda masing-masing. Lapangan Enci memang menjadi favorit kami. Selain asri dengan beragam tanaman yang tertata rapi, Lapangan Enci juga memiliki track sepeda yang sengaja dibuat untuk digunakan anak-anak bermain.

*****

“Hei, suara azan Ashar sudah terdengar,” seru Ridho.

“Iya, betul. Kita ke masjid yuk,” ajak Shabira.

“Betul, sebaiknya kita segera ke masjid,” sahut Reyhan.

Kemudian aku, Hafidza, Ridho, Reyhan, Rasyda, dan Shabira pergi ke Masjid Al-Ikhlas yang tak jauh dari tempat kami bermain. Kami pun segera melaksanakan shalat Ashar berjamaah. Kali ini yang menjadi imam shalat adalah Pak Ketua RT (Rukun Tetangga) kami yang biasa dipanggil Pak Arfi.

Usai sholat Ashar, kami pun pergi ke rumah masing-masing. Sesampainya di rumah, aku langsung pergi ke kamar. Aku ingin membaca novelku.

Saat aku membuka laci belajar, aku menemukan novel yang berkisah mengenai hewan peliharaan. Aku pun tertarik untuk membacanya. Namun saat aku membacanya, lagi-lagi aku merenung. Pada pikiranku terlintas kembali keinginan untuk mempunyai hewan peliharaan. Aku terus berkhayal betapa serunya jika mempunyai hewan peliharaan. Namun di sisi lain, aku berpikir jika peliharaan dalam imajinasiku saja sudah cukup menyenangkan.

“Teteh, kamu sudah sholat Ashar belum, Nak?” tanya seseorang yang tiba-tiba berada di sampingku.

“Eh, Bunda. Sudah Bun, tadi di masjid,” jawabku. “Bunda sudah pulang, ya?” tanyaku sembari mencium tangan bunda.

Bunda mengangguk. “Kalau begitu Bunda ke kamar Rahma dulu,” kata bunda sembari menutup pintu kamarku.
Setelah itu, aku pergi mengambil handuk lalu pergi menuju kamar mandi. Usai mandi, aku memakai baju muslimah berwarna pink tua belang abu-abu dengan gliter anak muslimah. Lalu aku pergi ke masjid untuk mengaji, karena hari ini ayah kerja lembur.

“Assalamu’alaikum,” sapa Rasyda dan Shabira.

“Hai, wa’alaikumussalam. Di mana yang lain?” tanyaku.

“Oh, Hafidza sedang mengambil air wudhu. Kalau Ridho dan Reyhan aku tidak tahu,” jawab Rasyda.

“Itu mereka!” seru Shabira.

“Assalamu’alaikum,” sapa Ridho dan Reyhan berbarengan.

“Wa’alaikumussalam,” jawab kami tak kalah kompak.

“Ayo kita masuk masjid. Sepertinya Pak ustad sudah menunggu,” ajakku.

“Ayo,” jawab teman-temanku.

Usai mengaji, aku lanjutkan dengan shalat Magrib dan Isya berjamaah. Setelah itu aku pulang bersama teman-temanku. Setibanya di rumah, aku langsung belajar untuk pelajaran esok hari.

Malam itu aku belajar cukup satu setengah jam saja. Tepat pukul 9 malam aku pun beranjak ke tempat tidur. Dan untuk yang ketiga kalinya aku kembali memikirkan Buraq. Tapi kali ini aku tidak merenung, melainkan bermimpi. Di dalam mimpiku, aku sedang menaiki Buraq.

“Siapa yang menaikinya?” pikirku. “Tidak ada!” Aku berseru. Kuusap mata berulang kali seakan tak percaya. Lalu Buraq berhenti di sebuah tempat yang tidak pernah kukunjungi sebelumnya.

Saat aku turun, nampak seorang pemuda yang wajahnya bercahaya menghampiriku.

“Assalamu’alaikum,” pemuda itu mengucapkan salam kepadaku.

“Wa’alaikumussalam,” jawabku. “Siapa engkau?” tanyaku penuh heran.

“Sudahlah, mari ikut saya,” ajak pemuda itu.

Kami pun pergi ke sebuah kebun yang di dalamnya terdapat bermacam tanaman dengan buah-buahan yang segar. Kulihat di sana ada anggur, cerry, strawberry, mangga, dan lain-lain. Wah, ternyata tak hanya tanaman. Di sana juga ada sungai susu dan sekumpulan Buraq!

Setelah puas mengelilingi tempat itu, aku diantar oleh pemuda itu ke tempat semula. Tak lama setelah itu, pemuda itu pun menghilang seketika entah ke mana. Aku hanya terpana. Sementara Buraq mengangguk-angguk kecil seolah mengajakku pergi dari tempat itu.

“Kring..kring,” suara jam weker berbunyi.

Aku terbangun dan segera kuhentikan jeritan weker yang memekakkan telingaku. Usai membaca doa bangun tidur, aku pun bergegas mengambil air wudhu lalu shalat Subuh.

*****

Seperti biasa, pagi itu aku disibukkan dengan persiapan sebelum berangkat sekolah. Aku mandi, sarapan, kemudian berangkat sekolah dengan diantar oleh ayah.

Setibanya di sekolah, aku masih mengantuk. Mataku tak kuat untuk terus terjaga, sementara tanganku terus menutup mulutku yang menguap.

“Kring..kring!!” suara bel pertanda masuk.

“Kok ngantuk sih? Ayo semangat!” kata Shabira.

“Tidak apa-apa kok,” jawabku.

Setelah pelajaran selesai, Aku, Shabira, Rasyda, dan Hafidza pergi ke kantin sekolah. Kami segera membeli makanan sesuai selera.

“Yuk cari meja makan,” ajakku.

“Ayo,” jawab semua.

Kami pun duduk di meja nomor 12. Tanpa dikomandoi, Shabira, Rasyda, dan Hafidza menyantap makanan masing-masing. Hanya aku yang tidak menyantap makanan.

“Azizah, kok tidak dimakan sih makanannya?” tanya Rasyda.

“Husss..jangan ditanyain Rasyda, kan kamu tau sendiri dia sukanya melamun,” kata Shabira.

“Tapi kan mubazir makanannya tidak dimakan,” jawab Rasyda.

Aku tak menghiraukan ucapan mereka.

“Waduh, basah-basah apaan nih?” batinku.

“Rasyda!” teriakku. Tuh, kan bajuku jadi basah, keluhku. Semua orang menertawaiku, termasuk Rasyda.

“Maaf, cuma sedikit kok,” jawab Rasyda. Lalu semua orang berhenti tertawa.

Aku cepat-cepat menyantap makanan lalu pergi ke kelas untuk mengerjakan tugas piket kelas.

Selesai menyapu lantai, tidak lama bel berbunyi. Aku dan semua murid lainnya segera ke tempat duduk masing-masing.
Usai sekolah, aku dan teman-temanku pulang bersama.

Sesampainya di rumah, aku langsung pergi ke kamar. Aku merenung kembali, seandainya benar-benar memiliki Buraq sebagai hewan peliharaan. Buraqku itu akan kuberi nama Layla. Dia adalah hewan tercantik yang aku lihat. Dia memang satu kelompok dengan hewan yang dikendarai oleh Nabi Muhammad Saw. pada saat Isra dan Miraj, seperti yang aku lihat di dalam mimpi.

Kesukaannya adalah memakan buah-buahan, seperti apel, anggur, dan strawberry. Wajah Layla seperti wanita cantik, sementara badannya tegap seperti badan kuda. Layla berambut putih seperti warna badannya. Bersama kelompoknya, Layla tinggal di surga. Tapi setiap aku memerlukannya ia selalu setia berada di sampingku. Aku hanya cukup memanggilnya dengan lembut, maka ia pun akan hadir di hadapanku. Itulah alasan mengapa aku memilih Layla menjadi hewan sahabat terbaikku. []

196dd220c64ec06e76c60ca0265d1d14_teteh-qiya
Taqiya Fairuzzakiyya
Kelas IV B SDIT Dinamika


TAGS Cerpen


-

Author

Follow Me