Menulislah dengan Gembira

6 Jun 2015

f667c19d0192fd89090c38c12e51984c_writer-3Hingga Jumat malam, 5 Juni 2015, saya masih belum juga menentukan topik apa yang akan saya bawakan saat coffee morning pada Ahad lusa. Itu juga yang saya katakan kepada Ustad Irfan saat bertemu di mushalla selepas Shalat Maghrib. Namun ingatan saya kepada sosok bapak di kampung, menggiring saya untuk menengahkan topik seputar menulis sebagai terapi. So, kenapa bapak di kampung yang menjadi pelecutnya?

Yup, sejak empat tahun terakhir, bapak divonis dokter menderita demensia. Kondisi kesehatan bapak justru semakin menurun usai dilakukan operasi pada kepala beliau. Operasi dilakukan mengikuti saran dokter yang menemukan banyaknya cairan di dalam kepala beliau. Menurut dokter, jika tidak segera diambil tindakan operasi, cairan itu akan semakin banyak dan dapat mengerucutkan otak. Masya Allah! Sebagai anak, saya dan adik-adik akhirnya mengikuti saran dokter tersebut.

Sejatinya, selain dipicu kisah bapak, saya juga termotivasi untuk menceritakan sosok guru sekaligus sahabat saya yang kini usianya lebih dari 75 tahun. Beliau adalah Purnama Kusumaningrat. Mantan wartawan yang wara-wiri di Grup KOMPAS selama lebih dari 30 tahun itu, hingga kini masih terlihat bugar. Meski jalannya sudah tertatih-tatih, namun aktifitas fisik dan aktifitas otaknya masih luar biasa terjaga. Di usia itu ia masih mampu naik Deborah dari Depok ke Cipete setiap Senin dan Selasa.

Jabatan terakhir beliau di Harian Umum KOMPAS adalah wakil redaktur pelaksana. Di Grup KOMPAS, sahabat Soe Hok Gie ini juga sempat mendirikan Banjarmasin Post dan pemrakarsa KONTAN yang kini merupakan harian ekonomi. Seusai masa baktinya di KOMPAS, beliau mendirikan Harian PELITA dan beberapa surat kabar lainnya. Aktifitas terakhir beliau di dunia jurnalistik menjadi konsultan bagi media dakwah SABILI yang belakangan dikenal sebagai media garis keras. Bukunya berjudul Jurnalistik: Teori & Praktik, bahkan, menjadi referensi wajib bagi mahasiswa jurnalistik dan komunikasi di sejumlah perguruan tinggi negeri maupun swasta.

Pak Pur, demikian biasanya beliau disapa, adalah mentor saya dalam menulis. Pengalamannya sebagai jurnalis, penulis buku, dan konsultan public relation sering saya sedot dan dengan suka rela pula beliau membaginya. Beberapa kali kami terlibat dalam penggarapan proyek penulisan buku biografi. Bahkan kami adalah tandem saat saya masih satu kantor dengan beliau.

Seperti Pak Pur, saya juga ingin sedikit berbagi kisah tentang guru dan sahabat saya lainnya, yaitu Pak Solemanto. Beliau adalah atasan saya waktu dulu di kantor. Lelaki berkumis ini merupakan mantan wartawan Harian TERBIT yang kerap diutus meliput di wilayah konflik. Selain pernah meliput Perang Teluk, beliau juga beberapa kali dikirim meliput di wilayah konflik lainnya. Pak Sol, demikian saya dan rekan-rekan kantor biasa memanggilnya, juga merupakan mentor saya dalam banyak hal. Beliau banyak mengajari saya tip dan trik menulis, terutama cara membuat judul yang menarik dan lead yang menggoda. Tak hanya itu, kepada Pak Sol juga saya belajar membuat proposal sebuah proyek yang ditenderkan hingga belajar menjadi konsultan media.

Menulislah, niscaya kau sehat
Subjudul ini mungkin sedikit bombastik atau malah lebay. Tapi nyatanya, beberapa artikel yang saya baca menyebutkan bahwa menulis dapat menjadi tools terapi. Kok bisa? Konon, menulis dapat mengurangi hormon kortisol yang dapat memicu stres. Sebaliknya, hormon yang mengakibatkan kita bahagia akan terangsang dan membuncah dalam diri penulis. Tentunya jika tulisan yang dibuatnya mampu mewakili perasaan dan memuaskan imajinasinya.

Pada tulisan kali ini saya ingin menyinggung hubungan menulis dengan ketiga tokoh di atas, yaitu bapak, Pak Pur, dan Pak Sol. Mengapa demikian?

Ketika saya beberapa kali mendampingi bapak berobat di RS Gunung Jati Cirebon, saya sering bertanya kepada dokter saraf terkait penyebab sakitnya bapak. Penyakit demensia (pikun) memang berada di area saraf. Umumnya, demensia ditandai oleh melemahnya daya ingat, hingga gangguan otak dalam melakukan perencanaan, penalaran, persepsi, dan berbahasa.

Meski penyebab pasti penyakit ini belum diketahui, para ahli percaya bahwa penyakit ini pada umumnya terjadi akibat meningkatnya produksi protein dan khususnya penumpukan protein beta-amyloid di dalam otak yang menyebabkan kematian sel saraf. Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit ini, di antaranya adalah pertambahan usia, cidera parah di kepala, riwayat kesehatan keluarga atau genetika, dan gaya hidup.

Hanya saja dokter sempat terheran-heran, mengingat usia bapak masih muda untuk mengalami demensia. Apalagi aktifitas bapak sebelumnya sangat terkait dengan aktifitas yang merangsang pikiran. Bapak adalah pensiunan Balai Pemasyarakatan (Bapas) Cirebon di bagian administrasi yang tentu saja pekerjaannya berkaitan dengan surat menyurat dan hitung menghitung. Selepas pensiun di usia 55 tahun pun bapak tak langsung diam. Beliau masih bekerja dengan membuka tempat pembayaran listrik di rumah. Pembayaran listrik di kampung memang masih manual, dimana masyarakat membayar tagihan listrik tidak melalui ATM atau datang ke bank.

Sempat bekerja sebagai penerima pembayaran listrik selama 6 tahun, kondisi bapak terus menurun. Meski fisik beliau masih merespon dengan baik, namun daya ingat beliau melemah. Menurut dokter, salah satu faktor pemicunya adalah minimnya rangsangan otak di samping pola hidup yang tidak baik, seperti olahraga yang tidak teratur dan pola makan yang tidak sehat.

Lain halnya dengan Pak Pur. Seperti yang saya ceritakan di atas, meski kondisi fisiknya sudah melemah, namun daya ingat beliau masih kuat. Bahkan hingga sekarang masih bekerja dan menulis buku. Beberapa kali saya tanyakan kepada beliau tentang resep awet mudanya, Pak Pur mengatakan: sering berdiskusi (terutama dengan anak muda) dan menulis. Menurutnya, dengan berdiskusi, adrenalinnya akan meningkat dan daya ingatnya terus terjaga. Apalagi diskusi dilakukan dengan anak-anak muda yang dapat memberinya informasi up to date sehingga otak Pak Pur terus mendapat asupan gizi. Sementara dengan menulis, selain menjaga daya ingat, Pak Pur merasa happy dan tubuhnya pun terasa lebih segar.

Kisah menarik lainnya saya dapatkan dari Pak Sol. Setelah divonis menderita diabetes sejak usia 40 tahun, Pak Sol tidak merasa down dan mengendurkan aktifitasnya. Bahkan, salah seorang penulis SBY Sang Demokrat ini semakin kencang menulis. Tak hanya artikel di koran dan majalah, Pak Sol telah melahirkan banyak buku biografi. Kini, di usianya yang hampir masuk 60 tahun, Pak Sol menjadikan menulis sebagai alat terapi bagi kesehatannya.

Menulis buku biasa dilakukan Pak Sol selepas shalat Subuh berjamaah di masjid dekat rumahnya di Villa Bogor Indah. Hal itu dilakukannya selama 1-2 jam, rutin setiap hari, sebelum ia berangkat bekerja. Pak Sol menyakini jika dengan menulis ia bisa bahagia dan berdampak positif bagi kesehatannya.

*****

Bagi saya, kisah bapak, Pak Pur, dan Pak Sol menjadi pelecut dan motivasi untuk tetap dan terus menulis. Minimal menjadikan aktifitas menulis sebagai hobi dan penggembira. Meski, kesibukan dalam pekerjaan kerap melupakan aktifitas tersebut. Mumpung masih muda dan Allah memberikan kesempatan serta kemampuan, sudah semestinya saya mencoba memotivasi diri untuk terus menulis, kapanpun dan di manapun.

Bagaimana dengan Anda? Dont think, just Write!

Telaga Kahuripan,
Sabtu dini hari, 6 Juni 2015


TAGS Edukasi renungan


-

Author

Follow Me